INGGRIS – Manchester City kembali terseret ke pusaran perkara finansial yang berlarut-larut setelah dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan terkait dugaan pelanggaran aturan kompetisi Liga Inggris. Meski putusan sudah keluar, klub berjuluk The Citizens itu belum sepenuhnya keluar dari proses hukum yang masih berjalan.
The Athletic pada Jumat (25/9) melaporkan, masih ada sejumlah tahapan yang harus diselesaikan sebelum kasus tersebut dinyatakan tuntas. Hingga kini, Manchester City tetap mempertahankan sikap seperti saat dakwaan resmi diajukan Liga Inggris pada Februari 2023.
“Proses Liga Inggris masih berlangsung, dengan sejumlah elemen penting yang harus diselesaikan dan tunduk pada aturan kerahasiaan yang ketat,” ujar juru bicara klub kepada The Athletic.
Fokus berikutnya kini tertuju pada potensi sanksi yang bisa dijatuhkan kepada Manchester City. Namun, bentuk hukuman maupun besarannya belum diputuskan. Jalur banding juga masih terbuka bagi klub asal Manchester tersebut.
Kasus ini bukan perkara baru. Liga Inggris telah melakukan penyelidikan selama kurang lebih empat tahun sebelum akhirnya melayangkan dakwaan pada 2023. Tuduhan itu menyangkut periode 2009 hingga 2018, saat City diduga tidak menyampaikan laporan keuangan secara akurat kepada otoritas liga, termasuk soal pendapatan klub serta pembayaran kepada pemain dan pelatih.
Selain menghadapi dakwaan terkait aturan finansial Liga Inggris, Manchester City juga dibayangi tuduhan pelanggaran regulasi keuangan UEFA dan aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR). Sejak awal, klub menolak seluruh tudingan tersebut.
Akar persoalan ini mengemuka setelah Der Spiegel pada November 2018 mempublikasikan sejumlah dokumen finansial yang disebut berasal dari kebocoran internal Manchester City. Publikasi itu kemudian memicu penyelidikan UEFA terhadap klub.
Sebelumnya, City juga pernah menerima sanksi dari UEFA. Pada Februari 2020, badan sepak bola Eropa itu menjatuhkan larangan tampil di kompetisi antarklub Eropa selama dua musim disertai denda 30 juta euro terkait perkara Financial Fair Play (FFP).
Namun, hukuman tersebut dibatalkan Pengadilan Arbitrase Olahraga atau CAS lima bulan kemudian. CAS menilai sebagian tuduhan yang menjadi dasar sanksi UEFA tidak terbukti atau sudah melewati batas waktu penindakan sesuai regulasi.
Meski begitu, CAS tetap menemukan pelanggaran lain. Manchester City dinilai tidak sepenuhnya kooperatif dalam investigasi UEFA karena tidak menyerahkan sejumlah bukti yang diminta. Atas pelanggaran itu, CAS menjatuhkan denda 8,8 juta pound sterling kepada klub tersebut.
Kini, perkara dengan otoritas Liga Inggris memasuki fase yang dianggap jauh lebih menentukan. Putusan atas 114 dakwaan sudah dijatuhkan, tetapi konsekuensi akhirnya masih menunggu proses lanjutan.
Di tengah situasi yang belum pasti itu, Manchester City diperkirakan akan menempuh banding untuk mempertahankan posisinya dalam kasus yang telah membayangi klub selama bertahun-tahun.


