JAKARTA – Reksadana pendapatan tetap (RDPT) masih menjadi pilihan yang patut dicermati investor setelah Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Meski begitu, kinerja instrumen ini ke depan tetap akan sangat ditentukan oleh arah pergerakan yield obligasi, nilai tukar rupiah, dan kebijakan suku bunga selanjutnya.
BI memutuskan mempertahankan BI-Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pada Rabu (23/9/2026). Di tengah keputusan itu, data Infovesta mencatat nilai aktiva bersih (NAB) RDPT per Agustus 2026 berada di Rp 209,91 triliun, nyaris tidak berubah dibandingkan posisi Juli 2026 yang sebesar Rp 209,96 triliun.
Namun, angka tersebut masih jauh dari puncak tahun ini. Pada Februari 2026, NAB RDPT sempat menyentuh Rp 254,88 triliun. Pergerakan harga obligasi dan derasnya arus dana investor menjadi faktor utama yang membentuk naik-turunnya nilai tersebut.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menilai investor tidak serta-merta harus mengurangi seluruh porsi obligasi hanya karena suku bunga naik.
Menurut Reza, yang lebih penting adalah melihat seberapa jauh kenaikan suku bunga sudah tercermin dalam harga obligasi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan portofolio secara aktif, terutama pada durasi dan kualitas kredit.
“Kami tidak melihat setiap kenaikan suku bunga harus direspons dengan mengurangi seluruh eksposur obligasi. Yang lebih penting adalah bagaimana duration, kualitas kredit, dan entry point dikelola secara aktif,” kata Reza kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Ia menambahkan, jika tekanan inflasi dan nilai tukar tetap terjaga, serta BI mampu menjaga stabilitas makroekonomi, pasar obligasi Indonesia masih punya ruang untuk kembali dilirik investor.
Dari sudut pandang lain, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi mengatakan daya tarik RDPT perlu dilihat dari posisi masing-masing investor saat ini. Bagi mereka yang sudah membeli, pelemahan harga obligasi akan tercermin pada penurunan market value portofolio. Sebaliknya, bagi calon investor, kondisi tersebut justru bisa menjadi kesempatan masuk di harga yang lebih rendah.
“Saya posisikan dari sisi yang sudah beli dan belum beli. Kalau sudah beli, market value-nya memang sedang tertekan. Bagi yang belum beli justru menjadi menarik karena harganya sedang turun atau diskon,” ujar Eri.
Meski begitu, ia menegaskan arah harga obligasi tetap bergantung pada pergerakan suku bunga dan rupiah. Dua faktor itu akan memengaruhi yield sekaligus valuasi obligasi yang menjadi aset dasar RDPT.
Eri juga menyebut manajer investasi biasanya akan menyesuaikan strategi portofolio sesuai ekspektasi suku bunga. Ketika ada kemungkinan bunga naik, pengelola dana umumnya akan menggeser portofolio ke tenor yang lebih pendek.
“Biasanya MI akan geser ke short duration kalau sudah ancang-ancang bunga akan naik,” ucapnya.
Dengan kondisi tersebut, RDPT masih memiliki daya tarik di tengah BI-Rate yang bertahan di 5,75%. Hanya saja, investor tetap perlu memantau pergerakan yield obligasi, rupiah, serta strategi durasi dan kualitas kredit karena seluruh faktor itu akan ikut menentukan hasil investasi ke depan.


