Jakarta, Gonesia.com — Indeks utama bursa Wall Street berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (16/9) setelah Federal Reserve mengambil langkah kebijakan moneter yang agresif.
Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan signifikan sebesar 631,21 poin atau 1,21% dan ditutup pada level 51.461,90.
Indeks S&P 500 ikut terkoreksi sebesar 0,45% ke posisi 7.551,81.
Sementara itu, Nasdaq Composite menunjukkan pelemahan terbatas dengan penurunan tipis 0,01% ke level 25.978,42.
Ketiga indeks bursa AS tersebut sejatinya sempat bergerak di teritori positif sebelum akhirnya berbalik arah merespons pengumuman bank sentral.
Perubahan arah pasar dipicu oleh keputusan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menetapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75% hingga 4%.
Kebijakan ini menandai kenaikan suku bunga pertama yang dilakukan otoritas moneter AS sejak Juli 2023.
Selain kenaikan suku bunga, The Fed memberikan sinyal kuat bahwa pengetatan kebijakan lanjutan masih sangat mungkin terjadi sepanjang tahun ini.
“Fakta sederhananya adalah inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama,” kata Warsh, seperti dikutip dari laporan Katadata pada Kamis (17/9).
Ia menambahkan bahwa data inflasi sepanjang musim panas ini tidak menunjukkan perbaikan tren yang mendasar secara signifikan.
Reaksi pasar awalnya terlihat tenang karena kenaikan suku bunga tersebut sebenarnya sudah diantisipasi oleh para pelaku pasar.
Namun, tekanan jual meningkat drastis setelah Warsh memberikan penekanan berulang mengenai risiko inflasi yang masih persisten.
Sentimen negatif tersebut mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus level psikologis penting di angka 5%.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang ada belum cukup kuat untuk menjinakkan laju inflasi.
Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai kebijakan The Fed masih sejalan dengan ekspektasi konsensus pasar.
Akan tetapi, ia menyoroti bahwa komentar Warsh yang cenderung hawkish berpotensi membuat tingkat imbal hasil tetap tinggi dalam periode yang lebih lama.
“Pasar saat ini mengambil petunjuk dari yield US Treasury 10 tahun yang kembali naik di atas 5%, yang merupakan level psikologis yang sangat penting,” ujar Hogan.
Ia memprediksi kenaikan yield dan inflasi yang bertahan tinggi akan menjadi hambatan utama bagi performa pasar dalam jangka pendek.
Sektor perbankan menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan tersebut.
Saham Bank of America dan Wells Fargo masing-masing mencatatkan penurunan hampir 3% di tengah kecemasan investor terkait penyaluran kredit.
Saham American Express dan Goldman Sachs bahkan mengalami pelemahan lebih dalam, yakni mendekati 4%.
Tekanan makroekonomi juga diperburuk oleh lonjakan harga energi global yang terus membayangi pasar.
Harga diesel di AS menembus angka US$ 6 per galon akibat kendala pasokan yang dipicu oleh konflik di Ukraina dan Iran.
Harga minyak mentah dunia pun masih bertahan kokoh di atas level US$ 100 per barel yang menambah beban biaya operasional bagi sektor industri.


