IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

BEI Masukkan Saham FORU ke UMA Saat Rencana Rights Issue Jumbo

Grafik pergerakan harga saham PT Fortune Indonesia Tbk di layar monitor perdagangan Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia menetapkan status Unusual Market Activity terhadap saham FORU menyusul lonjakan harga yang tidak wajar.

Jakarta, Gonesia.com – Saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) kini berada di bawah pengawasan ketat Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mencatatkan aktivitas perdagangan yang tidak wajar di tengah rencana aksi korporasi besar-besaran.

Otoritas bursa menetapkan status Unusual Market Activity (UMA) terhadap saham emiten tersebut pada 14 September 2026.

Status ini disematkan menyusul lonjakan harga saham yang dinilai di luar kebiasaan oleh pihak regulator.

Bursa Efek Indonesia menegaskan bahwa pengumuman UMA tidak serta-merta mengindikasikan adanya pelanggaran peraturan perundang-undangan di pasar modal.

Data perdagangan mencatat harga saham FORU sempat berada di level 4.650 pada Senin (14/9) sebelum akhirnya terkoreksi 9,25% ke level 4.220 pada perdagangan Selasa (15/9).

Penawaran Sukuk Ritel SR025 Berakhir Hari Ini, Kuota Masih Tersedia

Meski mengalami tekanan jual, performa saham ini dalam satu bulan terakhir melonjak tajam sebesar 78% dari Rp 2.370.

Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, akumulasi kenaikan harga saham FORU bahkan telah menyentuh angka fantastis sebesar 313%.

Pihak bursa menyatakan saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham tersebut secara mendalam.

Investor diminta untuk memperhatikan jawaban perseroan atas permintaan konfirmasi bursa serta mencermati keterbukaan informasi yang disampaikan.

Selain itu, pelaku pasar diimbau mengkaji kembali rencana aksi korporasi perusahaan jika belum mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

AS dan Cina Bahas Pemangkasan Tarif Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping

Sorotan bursa ini muncul bertepatan dengan rencana rights issue jumbo senilai Rp 27,1 triliun yang diusung Fortune Indonesia.

Berdasarkan prospektus terbaru, perusahaan berencana menawarkan hingga 215,10 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 126 per saham.

Aksi korporasi ini setara dengan 99,79% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah rights issue berlangsung.

Setiap pemegang 100 saham lama yang tercatat per 23 September 2026 akan mendapatkan 46.235 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Prospektus secara eksplisit memperingatkan bahwa pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya akan menghadapi risiko dilusi kepemilikan hingga 99,79%.

Lepas Saham Interkayu Nusantara, Singaraja Putra (SINI) Kantongi Rp31 Miliar

Dana hasil aksi korporasi ini sebagian besar akan digunakan untuk mengambil alih 49% saham PT Borneo Prima, sebuah perusahaan tambang batu bara.

Sekitar 76,81% dari total nilai rights issue atau Rp 20,82 triliun akan dibayarkan melalui skema inbreng atau penyertaan modal non-tunai.

IMR Asia Holding Pte Ltd, selaku pengendali Fortune Indonesia, akan menyetorkan kepemilikan sahamnya di Borneo Prima ke dalam entitas bisnis FORU.

Sisanya, dana tunai dari publik akan disalurkan sebagai pinjaman modal kerja untuk operasional pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah.

Langkah ini menandai pergeseran drastis model bisnis Fortune Indonesia dari sektor komunikasi pemasaran ke industri pertambangan batu bara.

Transformasi ini dilakukan di tengah kondisi keuangan perusahaan yang sedang mengalami tekanan berat.

Pendapatan usaha perusahaan pada semester I 2026 dilaporkan anjlok 57,27% menjadi Rp 10,35 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perseroan bahkan mencatatkan rugi komprehensif sebesar Rp 7,38 miliar, membengkak 902% dibandingkan kerugian sebelumnya.

Manajemen beralasan penurunan pendapatan disebabkan oleh rendahnya volume pekerjaan yang terealisasi serta perbedaan waktu pengakuan pendapatan.

Di sisi lain, beban gaji dan biaya restrukturisasi organisasi justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Arus kas bersih dari aktivitas operasi perusahaan juga berbalik menjadi negatif sebesar Rp 4,46 miliar per 30 Juni 2026.

Lebih lanjut, perusahaan menyatakan tidak menunjuk pembeli siaga untuk menyerap HMETD yang tidak diambil oleh investor.

Jika dana dari publik tidak terserap, perusahaan mengandalkan kas internal Borneo Prima atau komitmen dukungan dari IMR Asia Holding.

Seluruh rangkaian proses rights issue ini dijadwalkan akan rampung dengan pencatatan saham baru di bursa pada 25 September 2026.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

05

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

06

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

07

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

08

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

Berita Terbaru