JAKARTA, Gonesia.com – Transformasi taktis yang diterapkan pelatih Shin Tae-yong pada sosok Kyohei Yoshino menjadi kunci vital di balik kemenangan Persija Jakarta dalam laga El Clasico kontra Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (12/9) lalu.
Juru taktik asal Korea Selatan tersebut secara mengejutkan menggeser posisi pemain asing asal Jepang itu dari peran aslinya sebagai gelandang menjadi bek kanan.
Keputusan tersebut tergolong berani mengingat Persija sebenarnya memiliki kedalaman skuad yang mumpuni di sektor bek kanan.
Stok pemain yang tersedia untuk posisi tersebut meliputi nama-nama seperti Fajar Fathurrahman, Rio Fahmi, hingga Kerim Memija.
Dalam pertandingan tersebut, Kerim Memija bahkan harus rela digeser menempati posisi bek kiri demi mengakomodasi perubahan komposisi pemain.
Meskipun harus beradaptasi dengan peran baru yang asing baginya, Yoshino justru tampil sangat impresif di lapangan hijau.
Ia tercatat bermain selama 56 menit dengan performa yang cukup solid dalam mengawal area pertahanan.
Yoshino sukses mematikan pergerakan penyerang Persib, Mariano Peralta, yang menjadi ancaman utama bagi gawang Persija.
Dominasi serangan lawan yang mengarah ke sisi kanan pertahanan Macan Kemayoran berhasil diredam dengan sangat efektif.
Kunci keberhasilan pemain asal Jepang tersebut terletak pada kedisiplinan serta kecerdasannya dalam membaca alur serangan lawan.
“Yoshino memiliki kemampuan bertahan baik sebagai gelandang bertahan, bek tengah maupun bek sayap,” ujar Shin Tae-yong dilansir dari laman klub melalui JPNN.com.
Menurut pria yang akrab disapa STY tersebut, ia sengaja menempatkan Yoshino di bek sayap untuk memperkokoh keamanan lini belakang tim.
Strategi ini sebenarnya bukan kali pertama dilakukan oleh sang pelatih dalam beberapa pertandingan terakhir.
Sebelumnya, Yoshino juga sempat diuji kemampuannya saat Persija menghadapi Borneo FC di Stadion Segiri.
Dalam laga tersebut, ia diturunkan sebagai bek sayap kiri untuk menambal posisi yang ditinggalkan oleh Rio Fahmi.
Fleksibilitas tinggi yang ditunjukkan oleh Yoshino menjadikannya aset berharga bagi tim pelatih dalam meracik komposisi pemain.
Kemampuannya untuk bermain di berbagai posisi memberikan dimensi baru bagi sistem pertahanan Persija yang kini tampak lebih variatif.
Transformasi peran ini membuktikan bahwa pemahaman taktis pemain menjadi prioritas utama bagi STY dalam menentukan susunan sebelas pemain utama.
Dengan performa yang konsisten di posisi mana pun, Yoshino kini menjadi salah satu pilar krusial bagi ambisi Persija di musim ini.
Kehadirannya di lini pertahanan memberikan ketenangan bagi rekan-rekan setimnya saat menghadapi tekanan dari lawan-lawan berat.
Staf pelatih kini memiliki opsi lebih banyak dalam melakukan rotasi pemain tanpa harus mengurangi kualitas pertahanan di sektor bek sayap.
Kemenangan dalam duel klasik melawan Persib menjadi bukti nyata bahwa eksperimen taktis tersebut membuahkan hasil positif di lapangan.
Evolusi peran Yoshino akan terus dipantau untuk melihat sejauh mana ia dapat memberikan kontribusi bagi stabilitas permainan Persija ke depan.


