Jakarta, Gonesia.com – Industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan produksi yang signifikan pada tahun depan akibat fenomena cuaca El Nino yang berkepanjangan.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan akan terjadi penurunan produksi minyak sawit sebesar tiga juta ton dibandingkan capaian tahun ini.
Revisi angka ini merupakan koreksi dari estimasi awal yang sebelumnya sempat diprediksi mencapai empat hingga lima juta ton.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono menjelaskan bahwa penyesuaian angka tersebut didasarkan pada pemantauan kondisi cuaca terkini di sejumlah wilayah perkebunan.
Ia mencatat bahwa intensitas hujan yang mulai turun di beberapa daerah menjadi faktor penentu dalam perbaikan estimasi tersebut.
“Produksi masih memungkinkan turun, tetapi sekitar tiga juta ton tahun depan,” kata Eddy dikutip dari Bloomberg, Jumat (28/8).
Volume penurunan sebesar tiga juta ton tersebut setara dengan sekitar 5% dari total produksi nasional yang diproyeksikan mencapai 56,6 juta ton pada tahun ini.
Kondisi cuaca yang kering dan panas selama periode El Nino juga memberikan dampak ikutan bagi para petani sawit di lapangan.
Dia menambahkan bahwa cuaca ekstrem tersebut secara langsung menghambat efektivitas petani dalam melakukan pemupukan tanaman secara optimal.
Dampak dari terhambatnya proses pemupukan ini diprediksi baru akan terlihat secara jelas pada hasil panen raya di tahun mendatang.
Selain tekanan dari sisi produksi, pasar global juga tengah menyoroti kebijakan domestik Indonesia terkait program biodiesel B50.
Penerapan kewajiban biodiesel 50% tersebut dipastikan akan menyerap pasokan sawit dalam jumlah besar untuk kebutuhan energi di dalam negeri.
Pihak asosiasi menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama bagi seluruh produsen sawit nasional.
“Pasokan untuk kebutuhan domestik diprioritaskan, sehingga tidak akan ada masalah terkait hal tersebut. Yang akan menurun adalah volume ekspor,” ujarnya.
Strategi memprioritaskan pasar lokal ini secara otomatis akan mengurangi ketersediaan pasokan sawit yang dialokasikan untuk pasar ekspor global.
Kondisi ketatnya pasokan tersebut memicu reaksi langsung pada harga komoditas minyak sawit di pasar internasional.
Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics Sathia Varqa menilai revisi proyeksi produksi Gapki untuk 2027 telah memicu kenaikan harga referensi minyak sawit.
Sentimen positif terhadap harga ini terlihat dari pergerakan kontrak berjangka minyak sawit untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives.
Harga sempat mengalami lonjakan sebesar 1,2% menjadi 4.875 ringgit per ton pada sesi perdagangan hari ini.
Meskipun sempat terkoreksi, posisi harga tetap bertahan di level tinggi yakni 4.859 ringgit per ton pada siang hari.
Kenaikan harga ini terjadi setelah sebelumnya komoditas tersebut sempat mengalami penurunan lebih dari 3% dari level tertinggi dalam 20 bulan terakhir.
Tren kenaikan juga merambat pada komoditas serupa, termasuk minyak kedelai di Chicago yang naik 2,1% menjadi 69,97 sen AS per pon.
Di bursa Dalian Commodity Exchange, harga olahan minyak sawit untuk pengiriman Januari juga terpantau menguat 0,6% menjadi 10.109 yuan per ton.
Kondisi fundamental pasar yang mengetat diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan masih berlangsungnya dampak iklim terhadap produktivitas kebun.
Seluruh pelaku industri kini tengah mengantisipasi volatilitas pasar yang dipicu oleh kombinasi antara penurunan output dan tingginya permintaan domestik.


