Jakarta, Gonesia.com – Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) secara resmi menunjuk kembali Nova Widianto untuk menahkodai sektor ganda campuran pelatnas pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata federasi dalam mempercepat proses regenerasi atlet sekaligus mengembalikan supremasi Indonesia di nomor yang sempat menjadi lumbung prestasi tersebut.
Keputusan penunjukan ini diumumkan langsung oleh Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PBSI sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap performa sektor ganda campuran.
Ketua Bidang Binpres Pelatnas, Eng Hian, mengungkapkan bahwa pemilihan Nova didasarkan pada kebutuhan mendesak akan figur pelatih yang memiliki rekam jejak mumpuni di level elite dunia.
“Nova merupakan sosok yang memiliki pengalaman dan pemahaman yang sangat baik di sektor ganda, baik sebagai atlet maupun pelatih,” ujar Eng Hian, dikutip dari JawaPos.
Ia menambahkan, federasi menaruh harapan besar agar kehadiran kembali sosok tersebut dapat menciptakan perubahan signifikan bagi masa depan atlet-atlet nasional.
“Kami berharap kehadirannya dapat membawa energi baru, meningkatkan kualitas pembinaan, memperkuat daya saing pasangan-pasangan ganda campuran Indonesia, serta mengantarkan mereka meraih prestasi terbaik di berbagai turnamen internasional,” lanjutnya.
Pengalaman panjang Nova diyakini menjadi modal utama dalam membenahi struktur permainan pasangan-pasangan muda yang kini berada di bawah naungan pelatnas.
Sebelum kembali ke Tanah Air, sang pelatih telah membuktikan kualitas kepelatihannya di panggung internasional dengan mencetak sejarah baru bagi bulu tangkis Malaysia.
Pada tahun 2024, ia sukses mengantarkan pasangan Chen Tang Jie/Toh Ee Wei meraih gelar juara dunia yang sangat bergengsi.
Capaian tersebut menjadikan dirinya sebagai pelatih pertama yang berhasil membawa pasangan ganda campuran asal Malaysia menjuarai turnamen tingkat dunia.
Prestasi di luar negeri tersebut menjadi poin krusial yang meyakinkan PBSI untuk kembali memanggilnya guna membenahi sektor yang sedang mengalami tantangan regenerasi.
Sebagai mantan pemain, ia sendiri memiliki rekam jejak yang sangat impresif saat berpasangan dengan Liliyana Natsir di masa jayanya.
Bersama Liliyana, ia tercatat pernah meraih gelar juara dunia sebanyak dua kali, yakni pada edisi 2005 dan 2007.
Selain gelar juara dunia, ia juga sukses mempersembahkan medali perak bagi kontingen Indonesia pada ajang Olimpiade Beijing 2008.
Kombinasi antara pengalaman sebagai pemain level atas dan keberhasilan sebagai pelatih kelas dunia diharapkan mampu memotivasi para pemain muda di pelatnas saat ini.
PBSI memandang bahwa sosok pemimpin yang tepat sangat krusial untuk menavigasi pasangan-pasangan Indonesia agar kembali kompetitif di tengah persaingan dunia yang semakin ketat.
Proses transisi kepelatihan ini diharapkan berjalan mulus sehingga para pemain dapat segera beradaptasi dengan pola latihan dan strategi baru yang akan diterapkan.
Fokus utama dari penunjukan ini adalah memastikan bahwa kualitas pasangan muda Indonesia dapat meningkat pesat dalam jangka waktu yang terukur.
Dengan kembalinya Nova, federasi optimistis bahwa Indonesia akan kembali menjadi kekuatan yang disegani di nomor ganda campuran pada berbagai turnamen internasional mendatang.


