Yerusalem, Gonesia.com – Pemerintah Israel secara terbuka menyatakan keberatan mendalam atas draf kesepakatan pelucutan senjata Hamas yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Otoritas keamanan Israel menilai bahwa poin-poin dalam proposal tersebut belum mampu memberikan jaminan keamanan yang memadai untuk melumpuhkan kapasitas militer kelompok militan tersebut.
Kekhawatiran ini secara resmi telah disampaikan kepada Gedung Putih sebagai respons atas inisiatif perdamaian yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Sikap tegas Tel Aviv ini menjadi indikasi kuat bahwa narasi gencatan senjata yang diusung Washington belum menemui titik temu dengan prioritas pertahanan Israel di lapangan.
Juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Doron Spielman, menegaskan bahwa penilaian intelijen terkini menunjukkan Hamas masih aktif berupaya membangun kembali kekuatan tempurnya.
Ia menjelaskan bahwa Israel tetap bersikeras mempertahankan kehadiran pasukan militer di Gaza hingga proses pelucutan senjata benar-benar tuntas dilakukan secara fisik.
“Penilaian kami adalah, jika kami menarik pasukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, mereka akan dengan cepat memperluas kehadiran di seluruh Gaza, membangun kembali infrastruktur teroris, kembali mengancam komunitas Israel, dan berupaya melakukan serangan seperti 7 Oktober,” kata Spielman dilansir dari PBS.
Pihaknya menekankan bahwa komitmen politik semata tidak akan cukup untuk meniadakan ancaman eksistensial terhadap warga Israel.
“Melucuti senjata berarti benar-benar menyerahkan senjata secara fisik. Tidak ada yang kurang dari itu,” ujarnya.
Pernyataan ini menandai respons publik perdana pemerintah Israel setelah pengumuman rencana perdamaian 20 poin oleh Presiden Trump.
Rencana tersebut mencakup rangkaian langkah kompleks, mulai dari penyerahan senjata, penghancuran terowongan bawah tanah, hingga pengerahan pasukan keamanan internasional.
Israel menilai bahwa implementasi dari poin-poin tersebut masih menyisakan celah besar yang berpotensi dimanfaatkan oleh Hamas untuk melakukan reorganisasi.
Walaupun menghargai keterlibatan Amerika Serikat, Israel menyatakan bahwa keputusan strategis mereka tetap merujuk pada data intelijen internal.
“Posisi pemerintah mengenai pelucutan senjata didasarkan pada intelijen terperinci yang menunjukkan Hamas terus mempersenjatai diri, merekrut pejuang, dan membangun kembali kemampuan militernya,” kata dia.
Dalam negosiasi tertutup, Israel dikabarkan telah mengajukan tuntutan agar Qatar dan Turki tidak dilibatkan dalam proses verifikasi kesepakatan.
Israel juga menuntut agar setiap senjata milik Hamas yang berhasil disita harus segera dimusnahkan secara total, bukan sekadar diamankan di gudang penyimpanan.
Sementara itu, di medan tempur, operasi militer Israel di Gaza dilaporkan tetap berlanjut tanpa ada tanda-tanda penurunan intensitas.
Data dari pihak rumah sakit di Gaza menyebutkan sedikitnya 17 orang tewas dalam serangan terbaru, termasuk di antaranya anak-anak.
Insiden serangan di wilayah selatan Gaza menelan korban jiwa satu keluarga, termasuk seorang balita berusia empat tahun.
Militer Israel berdalih bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menyasar target bernilai tinggi serta infrastruktur militer milik Hamas.
Ketegangan ini berakar dari konflik yang meletus sejak 7 Oktober 2023, yang telah memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan jumlah korban jiwa yang terus meningkat drastis.


