JAKARTA, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan penguatan sebesar 0,30% ke posisi 6.236,13 di tengah optimisme pasar terhadap kebijakan moneter global dan kinerja emiten domestik.
Dinamika pasar saham saat ini sedang berada dalam fase transisi yang dipengaruhi oleh stabilitas suku bunga acuan Amerika Serikat serta laporan keuangan emiten yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, dalam keterangannya kepada Kontan, menyatakan bahwa keputusan The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% memberikan angin segar bagi para investor untuk kembali melirik aset berisiko.
Dia menjelaskan bahwa sentimen positif tersebut semakin diperkuat oleh fundamental perusahaan di dalam negeri.
“Dari domestik, musim rilis kinerja Semester I-2026 yang relatif solid, khususnya sektor perbankan dan komoditas, turut menjadi katalis positif,” ujarnya.
Meskipun mencatatkan kenaikan, penguatan indeks tidak berlangsung tanpa hambatan.
Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor pembatas yang cukup signifikan dalam pergerakan harga saham saat ini.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Indonesia pasca-perubahan kepemimpinan turut memicu sikap hati-hati di kalangan pelaku pasar.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah masih membayangi fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya operasional sektor industri.
Memasuki pekan baru, proyeksi teknikal menunjukkan adanya potensi kelanjutan tren kenaikan bagi indeks acuan saham nasional.
Dia memprediksi IHSG memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk menguji level psikologis baru dalam waktu dekat.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan support di 6.180-6.200 dan resistance di 6.300-6.380,” jelasnya.
Optimisme ini juga didorong oleh pola historis pasar yang cenderung menunjukkan performa positif saat memasuki bulan Agustus.
Sentimen musiman tersebut diharapkan mampu menopang kepercayaan investor di tengah padatnya agenda rilis data ekonomi makro.
Sejumlah indikator ekonomi penting yang akan menjadi sorotan pasar meliputi data inflasi, neraca perdagangan, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Pihak eksternal juga akan memberikan pengaruh besar, terutama melalui rilis data tenaga kerja Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls.
Pandangan senada disampaikan oleh Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menilai potensi penguatan indeks tetap terbuka meski dalam skala yang terbatas.
“Kami memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas, dengan support di 5.966 dan resistance di 6.377,” katanya.
Dia menambahkan bahwa fokus utama investor saat ini tertuju pada stabilitas kebijakan moneter domestik dan pergerakan kurs mata uang.
Strategi investasi pada pekan depan diharapkan dapat menyesuaikan dengan fluktuasi yang mungkin terjadi akibat sentimen global tersebut.
Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi BRPT, MLPL, dan BBRI dari BRI Danareksa Sekuritas.
Sementara itu, MNC Sekuritas menyarankan investor untuk memantau pergerakan BRMS di kisaran Rp595-Rp605, ENRG di rentang Rp1.455-Rp1.610, serta MBMA di level Rp540-Rp580 per saham.


