JAKARTA, Gonesia.com – PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) tancap gas memperluas jangkauan layanan kesehatan mata nasional melalui pemanfaatan dana segar hasil penawaran umum perdana saham (IPO) yang baru saja dirampungkan.
Langkah strategis ini menandai babak baru bagi pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics dalam memperkuat struktur permodalan sekaligus mengakselerasi pembangunan infrastruktur kesehatan di lokasi-lokasi strategis.
Fokus utama ekspansi perusahaan saat ini tertuju pada pembangunan JEC Bali Sanur yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan mata berstandar internasional dengan mengusung konsep Blue Hospital guna menangkap potensi pasar medical tourism yang kian berkembang.
Presiden Direktur JECX, Johan A. Hutauruk, menyatakan bahwa pemanfaatan dana hasil IPO akan difokuskan untuk mendukung agenda pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
“Dana hasil IPO akan dimanfaatkan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung agenda ekspansi perusahaan,” ujarnya.
Dalam aksi korporasi yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026 tersebut, perusahaan berhasil melepas 487,98 juta saham baru atau setara 10% dari modal disetor pasca-IPO.
Bersamaan dengan itu, terdapat divestasi sebesar 162,66 juta saham atau sekitar 5%, sehingga total saham yang beredar di pasar mencapai 15% dengan nilai penawaran total sebesar Rp609,97 miliar.
Alokasi dana tersebut mencakup pelunasan sebagian utang kepada PT Bank Central Asia Tbk senilai Rp40 miliar serta pembayaran utang kepada PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp100 miliar.
Selain itu, perusahaan mengalokasikan dana sebesar Rp185 miliar sebagai tambahan modal bagi sejumlah entitas anak yang beroperasi di berbagai daerah.
Sisa dari total perolehan dana IPO tersebut akan digunakan secara berkelanjutan sebagai modal kerja perusahaan hingga tahun 2027 mendatang.
Seiring dengan ekspansi yang masif, manajemen JECX menargetkan pendapatan berada di kisaran Rp900 miliar hingga Rp1 triliun sepanjang tahun 2026.
Perusahaan juga optimistis mampu mencatatkan target laba bersih di angka sekitar Rp320 miliar pada periode yang sama.
Direktur Keuangan JEC Group, Budi Djatmiko, menilai target tersebut masih berada dalam koridor yang realistis meskipun industri kesehatan tengah menghadapi tantangan kenaikan harga alat medis.
Dia menambahkan bahwa perusahaan akan terus berupaya mengendalikan biaya serta meningkatkan efisiensi operasional guna menjaga stabilitas kinerja di tengah dinamika ekonomi.
Dalam tiga tahun terakhir, rekam jejak pendapatan JECX menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Pendapatan perusahaan tercatat meningkat dari Rp825,1 miliar pada 2023 menjadi Rp887,7 miliar pada 2024, dan terus melonjak hingga menyentuh Rp926,8 miliar pada 2025.
Sementara itu, laba bersih sempat mengalami fluktuasi akibat investasi masif pada pembukaan sejumlah unit layanan baru.
Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp114,1 miliar pada 2023, kemudian terkoreksi menjadi Rp65,01 miliar pada 2024.
Namun, ia menegaskan bahwa kinerja profitabilitas telah kembali pulih dan meningkat sebesar 13% menjadi Rp73,76 miliar pada 2025.
Saat ini, perusahaan telah mengoperasikan lima rumah sakit khusus mata dan 11 klinik yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi.
Jaringan bisnis ini berakar dari Klinik Mata Jakarta yang telah berdiri sejak tahun 1984 dan terus bertransformasi menjadi pemimpin pasar di sektor kesehatan mata.


