IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Berita

Menghadapi Maraton di Tengah Pemanasan Global: Tantangan dan Pelajaran Penting

Jakarta – Penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon 2026 (BTN JAKIM 2026) yang digelar pada Minggu (14/6) lalu menyisakan kabar duka menyusul insiden yang menimpa salah satu peserta. Kondisi fisik pelari yang menurun diduga kuat dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dan kualitas udara yang tidak mendukung saat ajang berlangsung.

Dokter sekaligus praktisi kesehatan, Tirta Mandira Hudhi, yang turut berpartisipasi dalam ajang tersebut, menyoroti tantangan lingkungan yang dihadapi para atlet. Melalui unggahan di media sosial pada Rabu (17/6), ia menyebut kualitas udara Jakarta saat perlombaan berada dalam kategori kurang baik.

Tirta mengungkapkan bahwa suhu udara sejak garis start sudah terasa menyengat dengan angka yang setara dengan 32 derajat Celsius. Kondisi tersebut diperparah oleh tingkat kelembapan udara yang tinggi.

Paparan cuaca panas dan lembap memaksa tubuh pelari bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan suhu internal. Hal ini memicu peningkatan laju pernapasan dan pengeluaran keringat yang lebih cepat dari kondisi normal.

Menurut Tirta, kondisi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi bagi para peserta. Selain itu, akumulasi karbon dioksida di dalam tubuh serta beban kerja jantung yang meningkat secara ekstra menjadi ancaman serius bagi kesehatan pelari di tengah lintasan.

BK DPR RI Perkuat Telesurvei untuk Susun RUU Akurat

BTN JAKIM 2026 sendiri diikuti oleh puluhan ribu peserta dengan berbagai kategori, mulai dari 5 kilometer hingga full marathon. Ajang ini diselenggarakan guna menyemarakkan HUT DKI Jakarta dengan rute yang melintasi sejumlah jalan protokol utama.

Peserta kategori half marathon menempuh rute dari Monumen Nasional menuju Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Imam Bonjal, hingga berakhir di Jogging Track Gelora Bung Karno. Sementara itu, kategori full marathon mencakup jalur yang lebih panjang dengan melewati kawasan Rasuna Said, Mampang, hingga Prapanca Raya sebelum mencapai garis finis di lokasi yang sama.

Tantangan iklim yang dialami di Jakarta sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) mengenai dampak perubahan iklim terhadap ajang olahraga dunia. WEF menegaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi faktor penentu dalam penjadwalan dan pemilihan lokasi kompetisi.

Laporan bertajuk Sports for People and Planet mencatat bahwa semakin banyak negara kesulitan menjadi tuan rumah ajang besar. Olimpiade Paris 2024, misalnya, terpaksa berlangsung di tengah catatan suhu tahunan terpanas, sementara Olimpiade Musim Dingin di Italia Utara harus lebih mengandalkan salju buatan karena pola cuaca yang tidak konsisten.

Fenomena panas ekstrem memaksa penyelenggara di berbagai negara melakukan mitigasi risiko, seperti penundaan, pembatalan, atau penyesuaian waktu lomba. Pada Kejuaraan Atletik Dunia 2019 di Doha, Qatar, maraton putri sempat dijadwalkan pada tengah malam untuk menghindari suhu siang hari, meski suhu tetap menembus 32 derajat Celsius dengan kelembapan 70 persen.

Adang Soroti Kesiapan Polres Jakut Terapkan KUHP-KUHAP Baru

Data Climate Central terhadap 221 ajang maraton global memperingatkan bahwa 86 persen perlombaan berisiko mengalami penurunan kondisi optimal bagi pelari pada 2045. Tren peningkatan suhu global ini menuntut penyelenggara untuk lebih sigap dalam menerapkan langkah perlindungan bagi kesehatan para atlet.

Komentar

Berita Populer

01

Saham Blue Chip Tertekan, Simak Peluang Rebound Semester II 2026

02

Manufaktur Indonesia Targetkan Pertumbuhan 5,51 Persen di 2026

03

Contraflow Jakarta-Cikampek KM 55-65 Berlaku: Cek Info Terbaru!

04

PLTMG Gunungsitoli Amankan Listrik Nias, Hadapi Cuaca Ekstrem Saat Nataru

05

Biochar Sisik Ikan Perkuat Komposit Serat Karbon, Kurangi Limbah, Tingkatkan Kekuatan

06

Profil Erling Haaland: Harapan Norwegia dan Kandidat Top Skor Piala Dunia 2026

07

Petugas PPSU Jakarta Utara Menjaga Integritas Kerja di Tengah Godaan Manipulasi

08

Bencana Sumatra Rusak Parah 54 Sekolah; Siswa Belajar di Tenda

Berita Terbaru