TEHERAN – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan memaksa sebuah kapal tanker milik Amerika Serikat untuk berbalik arah di dekat perairan Selat Hormuz. Tindakan tegas tersebut diambil setelah kapal tanker itu kedapatan berlayar dengan sistem radar dalam kondisi mati.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim pada Kamis (28/5), pasukan angkatan laut IRGC merespons pergerakan kapal tersebut dengan cepat. Mereka melepaskan tembakan peringatan yang memaksa kapal tanker tersebut mundur dari wilayah tersebut. Pihak otoritas Iran memastikan bahwa insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material.
Aksi ini disebut-sebut berkaitan dengan ledakan yang sempat terdengar di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas. Media setempat melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Iran sempat diaktifkan menyusul insiden tersebut.
Di sisi lain, seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa pasukan Amerika baru saja melakukan serangan udara di Iran selatan. Serangan itu menargetkan dan menembak jatuh empat drone serang satu arah milik Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Selain menembak jatuh drone, pasukan AS juga menghancurkan stasiun kendali darat milik Iran di Bandar Abbas yang bersiap meluncurkan drone kelima. Pejabat tersebut menegaskan bahwa operasi ini merupakan tindakan defensif yang terukur guna menjaga stabilitas gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Ketegangan di kawasan Teluk terus memuncak sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Iran merespons tindakan tersebut dengan menyerang sasaran Israel dan sekutu AS di Teluk, serta sempat melakukan penutupan Selat Hormuz.
Upaya perdamaian sempat tercapai melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan sejak 8 April lalu. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS, Donald Trump, demi meredam eskalasi konflik yang lebih luas.

