Jakarta – Kinerja bongkar muat IPC TPK pada April 2026 melonjak tajam seiring menguatnya perdagangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2026 naik 10,05 persen secara tahunan, sementara neraca perdagangan masih membukukan surplus 5,55 miliar dolar AS.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, menegaskan perusahaan menjaga efisiensi operasional dan optimalisasi layanan untuk memastikan distribusi logistik tetap lancar. Menurut dia, penguatan layanan menjadi kunci agar arus barang tetap terjaga dan daya saing logistik nasional tidak menurun.
“Optimalisasi dan efisiensi layanan terus kami pertahankan guna mendukung kelancaran arus barang serta menjaga daya saing logistik nasional,” ujar Daniel dalam keterangannya, Selasa 19 Mei 2026.
Secara tahunan, performa IPC TPK pada April 2026 tercatat tumbuh 26,78 persen. Volume operasinya mencapai 308.810 TEUs, naik dibandingkan April 2025 yang berada di angka 243.579 TEUs.
Kontribusi pertumbuhan terbesar datang dari wilayah Tanjung Priok. IPC TPK Area Tanjung Priok 2 membukukan kenaikan 36,7 persen, disusul Area Tanjung Priok 1 yang tumbuh 24,3 persen. Lonjakan itu ditopang tambahan layanan ad hoc serta meningkatnya volume dari sejumlah shipping line.
Di Area Palembang, kinerja juga bergerak positif dengan pertumbuhan 18,7 persen. Kenaikan itu sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekspor dan impor sejumlah komoditas, mulai dari rubber, wood product, coconut, hingga metal box.
Di wilayah lain, IPC TPK Teluk Bayur memperkuat sinergi dengan PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur pada April 2026. Kolaborasi itu diarahkan untuk memaksimalkan pemanfaatan dermaga dan peralatan bongkar muat demi mendukung kelancaran layanan logistik di Sumatera Barat.
Adapun IPC TPK Area Jambi fokus mendorong ekspor kayu manis. Optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku dilakukan untuk memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggulan daerah tersebut.

