IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Proyeksi Rupiah Pekan Depan Usai Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan pada pekan depan. Sepanjang pekan lalu, mata uang Garuda mengalami pelemahan signifikan hingga mencetak rekor terlemah dalam sejarah akibat kombinasi sentimen geopolitik global dan tantangan ekonomi domestik.

Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp17.514 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Sementara itu, di pasar spot, nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp17.597 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Pengamat mata uang menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh dua faktor utama, yakni eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Konflik ini memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi di Selat Hormuz, yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan memicu kekhawatiran inflasi global.

Selain isu geopolitik, inflasi Amerika Serikat yang tercatat mencapai 3,8% secara tahunan pada April 2026 turut memperkeruh situasi. Tingginya inflasi ini membuat pasar meragukan rencana penurunan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Akibatnya, indeks dolar AS menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari dalam negeri, meski Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 masih menunjukkan optimisme di level 123,0, pasar tetap mencermati sejumlah risiko domestik. Tantangan tersebut meliputi pelemahan sektor manufaktur, ketidakpastian kebijakan royalti tambang, hingga kekhawatiran terhadap beban fiskal pemerintah di tengah tingginya belanja negara.

Kepercayaan Nasabah Meningkat, DPK BRI Tembus Rp1.580 Triliun

Sentimen pasar juga sempat terpengaruh oleh perhatian publik terhadap dinamika kebijakan pemerintah terkait stabilitas mata uang, serta potensi arus keluar modal asing (capital outflow) pasca penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa posisi utang Indonesia masih berada dalam batas aman. Hingga akhir Maret 2026, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah ambang batas UU Keuangan Negara sebesar 60%.

Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar melalui instrumen *Non-Deliverable Forward* (NDF), intervensi pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Berdasarkan proyeksi, nilai tukar rupiah pada pekan depan diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.420 hingga Rp17.650 per dolar AS.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

08

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

Berita Terbaru