Jakarta – Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengapresiasi keberhasilan Polri membongkar jaringan perjudian online lintas negara yang melibatkan 321 warga negara asing. Menurut dia, pengungkapan kasus ini menegaskan keberpihakan aparat kepada masyarakat, terutama kelompok kecil yang paling sering menjadi korban praktik judi daring ilegal.
Fernando menyebut langkah tersebut bukan sekadar capaian penegakan hukum. Ia menilai, keberhasilan ini mencerminkan penerapan konsep Presisi yang digagas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan menunjukkan hadirnya model policing modern dalam menghadapi kejahatan digital yang kian meluas.
“Langkah Polri ini adalah bentuk konkret dari kecerdasan konsep Presisi yang dicanangkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sebuah keberpihakan yang nyata kepada rakyat, terutama bagi mereka yang selama ini menjadi korban,” kata Fernando.
Ia menegaskan, judi online lintas negara telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Kalangan menengah ke bawah, menurut dia, menjadi kelompok yang paling rentan karena mudah tergiur janji keuntungan cepat hingga akhirnya kehilangan simpanan, terjerat utang, bahkan menghadapi retaknya hubungan keluarga.
Dengan dibongkarnya jaringan internasional itu, Fernando menilai Polri telah memutus mata rantai eksploitasi terhadap kelompok masyarakat yang paling lemah. Ia menyebut langkah tersebut menyentuh kebutuhan paling mendasar warga, yakni perlindungan dari kejahatan yang merusak kehidupan dari dalam.
“Apresiasi kami disampaikan karena langkah ini menyentuh kepentingan rakyat yang paling fundamental, yaitu perlindungan dari kejahatan yang menggerogoti kehidupan masyarakat dari dalam,” ujarnya.
Fernando juga mendorong agar pemberantasan judi online terus diperkuat. Ia meminta pengawasan digital diperketat, koordinasi lintas lembaga ditingkatkan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan perjudian internasional ditindak tegas.

