Jakarta – Masa depan Palestina dinilai makin terjepit dalam skema politik internasional setelah rencana pengelolaan Gaza di bawah Board of Peace kembali menjadi sorotan dalam sebuah webinar yang digelar AMEC. Sejumlah pembicara menilai, mekanisme itu berpotensi membuat Palestina semakin bergantung pada keputusan dan penilaian pihak luar.
Webinar tersebut dibuka Direktur Eksekutif AMEC Dr. Muslim Imran dan diikuti sekitar 30 peserta, dengan sebagian hadir dari Malaysia. Forum itu dimoderatori Mumtaza Chairannisa, alumni Cambridge University, Inggris.
Empat narasumber hadir dalam diskusi ini, masing-masing Peneliti BRIN Prof. M. Hamdan Basyar, Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan periode 2012-2026 Dian Wirengjurit, peneliti AMEC Pizaro Gozali Idrus, serta Co-Founder Asia West-East Centre (AsiaWE) Malaysia, Abdolreza Alami.
Prof. Hamdan menilai, jalan Palestina menuju kemerdekaan kini makin penuh syarat dan bergantung pada kepentingan kekuatan eksternal. Dalam rilis yang dibagikan, ia menekankan bahwa kemerdekaan Palestina yang kerap disebut sebagai “aspirasi” justru dibuat sangat bersyarat dan bergantung pada evaluasi subjektif pihak luar.
Pandangan berbeda datang dari Dubes Dian Wirengjurit yang mengulas posisi Israel dan Iran dalam konflik kawasan yang dinilainya tidak seimbang. Ia menyebut Israel kerap mengklaim aksi militernya bersifat defensif, tetapi dalam praktiknya tetap aktif melakukan berbagai operasi militer.
Sebaliknya, Iran disebut lebih banyak bergerak melalui jaringan tidak langsung. Karena itu, menurut Dian, klaim bahwa langkah Israel semata-mata untuk bertahan diri patut dipertanyakan.
“Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai apakah perilaku militer Israel benar-benar mencerminkan kebutuhan defensif, atau justru mencerminkan agenda yang jauh lebih luas dan melampaui sekadar upaya mempertahankan diri,” kata Dian.
Pizaro Gozali Idrus menyoroti perubahan sikap sebagian negara Arab yang mulai mencari ruang manuver lebih mandiri. Upaya itu, katanya, terlihat dari normalisasi hubungan dengan Iran dan berbagai langkah rekonsiliasi regional.
Namun, ia mengingatkan proses tersebut tidak mudah karena masih ada tekanan Amerika Serikat dan keterbatasan pihak yang bisa bertindak sebagai penjamin keamanan global. Pizaro juga menegaskan bahwa Tiongkok dan Rusia belum menunjukkan kesiapan untuk menggantikan peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan militer di Teluk bila konflik terbuka terjadi.
Dari sisi lain, Abdolreza Alami menilai berbagai prediksi tentang melemahnya Iran tidak terbukti di lapangan. Ia mengatakan jaringan regional yang melibatkan Iran masih bertahan, ditopang posisi geografis yang strategis serta kekuatan militer yang tetap solid menghadapi tekanan eksternal.
“Iran memiliki posisi geografi yang menguntungkan, kekuatan senjata yang menjadi daya penggetar musuh serta memiliki jaringan perdagangan multi jalur tida hanya laut tetapi juga darat,” ujarnya.

