JAKARTA – Pemerintah mencatatkan penjualan Sukuk Ritel (SR) seri SR024 senilai Rp 17,48 triliun. Angka tersebut diraih selama masa penawaran yang berlangsung sejak 6 Maret hingga 15 April 2026.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, hasil penerbitan ini akan digunakan sepenuhnya untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2026.
Penjualan SR024 terbagi ke dalam dua seri, yakni SR024T3 dengan tenor 3 tahun senilai Rp 12,14 triliun dan SR024T5 dengan tenor 5 tahun senilai Rp 5,34 triliun. Seri SR024T3 akan jatuh tempo pada 10 Maret 2029, sementara seri SR024T5 jatuh tempo pada 10 Maret 2031.
Pemerintah menetapkan imbalan tetap (*fixed rate*) sebesar 5,55 persen per tahun untuk SR024T3 dan 5,90 persen per tahun untuk SR024T5. Produk investasi berbasis syariah ini menggunakan akad *Ijarah Asset to be Leased* dengan *underlying asset* berupa Barang Milik Negara (BMN) dan proyek APBN 2026.
Total sebanyak 62.231 investor tercatat berpartisipasi dalam SR024, di mana 16.034 di antaranya merupakan investor baru di pasar SBN Ritel. Selain itu, terdapat dana sebesar Rp 6,33 triliun dari investor SR018T3 yang jatuh tempo pada 10 Maret 2026, yang kemudian direinvestasikan ke dalam SR024.
Dari sisi demografi, generasi milenial mendominasi jumlah investor dengan porsi 50,75 persen. Namun, dari sisi volume pemesanan, generasi X menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 42,62 persen.
Berdasarkan profesi, pegawai swasta menjadi kelompok investor terbanyak dengan persentase 34,95 persen. Sementara itu, wiraswasta mendominasi volume pemesanan dengan porsi 29,79 persen.
Dari aspek gender, investor perempuan tercatat lebih aktif dibandingkan laki-laki, dengan kontribusi jumlah investor sebesar 57,16 persen dan volume pemesanan sebesar 50,64 persen.

