Jakarta – Penghujung tahun 2025, tanggal 30 Desember, diramaikan dengan berbagai peringatan bermakna, mulai dari apresiasi profesi hingga refleksi menyambut tahun baru.
Tanggal 30 Desember diperingati sebagai Hari Jadi Satuan Pengamanan (Satpam), sebuah momentum untuk mengapresiasi peran satpam sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di berbagai sektor kehidupan masyarakat.
30 Desember juga menandai Kelahiran Masykur, tokoh yang dikenang atas kontribusi dan pengaruhnya dalam perjalanan sosial dan sejarah bangsa.
Hari Natrium Bikarbonat juga diperingati pada hari ini, Selasa (30/12/2025), untuk menghargai senyawa yang akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari kebutuhan rumah tangga hingga bidang kesehatan dan industri.
Selain itu, hari ini juga diperingati sebagai Hari Rizal, momentum untuk mengenang Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang pemikiran dan perjuangannya menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan penindasan.
Tak kalah penting, diperingati pula Hari Perencanaan Resolusi Nasional, pengingat akan pentingnya refleksi dan perencanaan tujuan sebagai bekal menghadapi tahun yang baru.
Terakhir, ada Hari Festival Keluarga Falling Needles, momentum bagi keluarga untuk menurunkan pohon Natal dan mendaur ulangnya secara bertanggung jawab, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan setelah perayaan Natal berakhir.
Hari Jadi Satuan Pengamanan (Satpam) yang diperingati setiap 30 Desember menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran strategis Satpam dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Peringatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga bentuk apresiasi atas dedikasi Satpam sebagai garda terdepan pengamanan di berbagai ruang publik.
Gagasan pembentukan Satpam berawal dari keterbatasan jumlah personel Kepolisian Republik Indonesia yang tidak memungkinkan untuk mengawasi seluruh lingkungan umum secara menyeluruh. Oleh sebab itu, Satpam dibentuk dengan tujuan satuan pengamanan yang bekerja sama dengan kepolisian guna menciptakan stabilitas keamanan, terutama dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan terorganisir yang marak pada masa itu.
Sebagai satuan pengamanan binaan kepolisian, Satpam resmi berdiri pada 30 Desember 1980. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Satpam. Pembentukan ini digagas oleh Awaloedin Djamin melalui Surat Keputusan Kapolri Nomor Pol. SKEP/126/XII/1980 tentang Pola Pembinaan Satpam.
Dalam menjalankan tugasnya, Satpam dibekali berbagai pelatihan khusus karena tanggung jawab besar yang diemban dalam menjaga keamanan lingkungan kerja. Secara regulasi, definisi Satpam tertuang dalam Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020, yang menyebut Satpam sebagai satuan atau kelompok profesi pengemban fungsi kepolisian terbatas nonyudisial yang direkrut oleh badan usaha jasa pengamanan atau pengguna jasa untuk menyelenggarakan keamanan swakarsa di lingkungan kerjanya.
Hari Natrium Bikarbonat yang diperingati setiap 30 Desember menjadi momentum untuk mengapresiasi soda kue sebagai bahan serbaguna yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Dikenal juga sebagai baking soda atau soda roti, natrium bikarbonat (NaHCO3) telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, termasuk pada masa Mesir Kuno melalui bahan alami bernama natron.
Perkembangannya semakin pesat sejak abad ke-19, ketika soda kue mulai dimanfaatkan luas sebagai bahan pengembang dalam pembuatan roti dan kue, menggantikan ragi yang sebelumnya membutuhkan proses panjang. Selain di dapur, natrium bikarbonat juga efektif sebagai pembersih alami, penghilang bau, hingga bahan pengawet makanan.
Hingga kini, soda kue diproduksi dalam jumlah besar dan digunakan secara luas di seluruh dunia, menjadikannya salah satu bahan sederhana dengan manfaat luar biasa yang patut diperingati setiap 30 Desember.
Hari Rizal diperingati setiap 30 Desember sebagai hari libur nasional di Filipina untuk mengenang kehidupan, pemikiran, dan jasa Jose Rizal, pahlawan nasional yang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Spanyol. Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari eksekusi Rizal pada 30 Desember 1896 di Lapangan Bagumbayan, Manila.
Jose Rizal, yang lahir pada 19 Juni 1861 di Calamba, dikenal sebagai dokter, intelektual, dan sastrawan. Melalui karya-karyanya, terutama novel Noli Me Tangere dan El Filibusterismo, Rizal mengkritik keras praktik penindasan dan korupsi pemerintahan kolonial Spanyol.
Gagasan-gagasan dalam karya tersebut diyakini banyak sejarawan sebagai pemantik tumbuhnya kesadaran nasional dan gerakan revolusi Filipina, meskipun Rizal sendiri tidak terlibat langsung dalam pertempuran bersenjata.
Setelah kematiannya, penghormatan terhadap Rizal terus berkembang. Pada 1898, Presiden pertama Filipina Emilio Aguinaldo menetapkan peringatan Hari Rizal sebagai hari berkabung nasional. Penetapan resmi sebagai hari libur nasional dilakukan pada 1902 melalui Undang-Undang Nomor 345. Penguatan makna peringatan ini kemudian ditegaskan kembali lewat Undang-Undang Republik No. 229 Tahun 1948 yang mengatur tata cara penghormatan nasional setiap 30 Desember.
Hari Perencanaan Resolusi Nasional yang diperingati setiap 30 Desember mengingatkan pentingnya mempersiapkan tujuan hidup sebelum tahun baru benar-benar dimulai. Berbagai studi menunjukkan bahwa banyak resolusi Tahun Baru gagal dipertahankan karena dibuat terlalu mendadak.
Maka dari itu, peringatan ini hadir untuk mendorong masyarakat dalam merancang resolusi lebih awal agar komitmen dan peluang keberhasilannya lebih besar saat memasuki 1 Januari nanti.
Tradisi membuat resolusi ternyata sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Lebih dari 4.000 tahun silam, bangsa Babilonia merayakan Festival Akitu, dengan membuat janji kepada para dewa sebagai bagian dari pergantian tahun dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Praktik serupa juga berlanjut di Romawi Kuno, ketika 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru untuk menghormati dewa Janus, simbol refleksi masa lalu dan perencanaan masa depan. Melalui peringatan Hari Perencanaan Resolusi Nasional, masyarakat diajak untuk tidak sekadar membuat janji tahunan, melainkan menyusun rencana yang matang, realistis, dan berkelanjutan sebagai bekal menyambut tahun baru.
Hari ini, juga diperingati sebagai Hari Festival Keluarga Falling Needles. Sebuah momentum pengingat bagi keluarga untuk membersihkan pohon Natal dan mendaur ulangnya setelah perayaan berakhir. Peringatan ini menyoroti pentingnya pengelolaan pohon Natal asli agar tidak menjadi limbah, tetapi kembali ke alam melalui proses daur ulang yang ramah lingkungan.
Hari Kesadaran ini digagas oleh Thomas dan Ruth Roy dari Wellcat Holidays dan tercatat dalam Chase’s Calendar of Events. Festival Keluarga Falling Needles bukanlah hari libur, melainkan ajakan reflektif untuk menurunkan dekorasi Natal dan bertanggung jawab akan lingkungan, terutama di tengah meningkatnya volume sampah selama musim liburan.
Sejak populer di Amerika pada awal abad ke-18, pohon Natal asli telah menjadi simbol perayaan Natal di rumah-rumah dan ruang publik. Selain memberikan suasana hangat dengan aroma alami pinus, pohon Natal hidup juga lebih ramah lingkungan dibandingkan pohon buatan karena dapat terurai secara alami. Melalui peringatan Falling Needles Family Fest, masyarakat diajak menjadikan penutupan musim Natal sebagai momen kebersamaan keluarga sekaligus wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


