Jakarta – Dua siswa masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit pasca-ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading. Insiden mengerikan yang juga menemukan senjata api mainan dengan nama-nama teroris dan bahan peledak rakitan ini telah mengidentifikasi seorang siswa sekolah tersebut sebagai terduga pelaku.
Total 13 korban ledakan kini dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Dari jumlah tersebut, satu korban berada di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan satu lainnya di Unit Perawatan Tingkat Tinggi (HCU). Sebelas korban lainnya dirawat di unit rawat inap biasa.
Direktur Utama RSIJ Cempaka Putih, Pradono Handojo, menyatakan bahwa tanda vital kedua korban di ICU dan HCU telah stabil. Namun, ia menekankan bahwa kondisi mereka belum cukup baik untuk dipindahkan ke ruang rawat inap reguler, sehingga pemantauan ketat oleh tim dokter spesialis terus dilakukan 24 jam.
Sementara itu, Pradono berharap sebelas korban di unit rawat inap bisa segera pulih dan diizinkan pulang dalam waktu 3 hingga 5 hari ke depan, tergantung pada kondisi cedera dan asesmen dokter.
Ledakan tragis ini terjadi pada Jumat, 7 November 2025, saat siswa dan guru sedang menunaikan salat Jumat. Ledakan pertama menggelegar di musala lantai tiga, disusul ledakan kedua beberapa menit kemudian dari area belakang kantin.
Penyelidikan di lokasi kejadian (TKP) mengungkap temuan mengejutkan berupa senjata api mainan yang tertulis tiga nama pelaku penembakan masjid dan teroris supremasi kulit putih, yakni Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini. Di lokasi yang sama, polisi juga menemukan bahan peledak rakitan.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo, saat mengunjungi RSIJ Cempaka Putih, mengonfirmasi bahwa terduga pelaku merupakan seorang siswa dari SMAN 72 Jakarta. Polisi saat ini masih terus mendalami penyelidikan terhadap terduga pelaku untuk mengungkap motif dan detail kejadian.


