JAKARTA – Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mendesak pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyebaran Hantavirus. Seruan ini muncul setelah data Kementerian Kesehatan menunjukkan tingkat kematian (case fatality rate) akibat Hantavirus di Indonesia mencapai 13 persen pada tahun lalu.
Angka tersebut dinilai mengkhawatirkan karena jauh melampaui rata-rata tingkat kematian di Asia yang umumnya berada di bawah 5 persen, bahkan beberapa data mencatat hanya 1 persen. Meski Kementerian Kesehatan menyebut kasus kematian di Indonesia berkaitan dengan komorbid atau komplikasi penyakit lain, Tjandra menekankan bahwa negara lain kemungkinan besar juga menghadapi tantangan serupa namun mampu menekan angka kematian yang lebih rendah.
Kewaspadaan nasional ini kian mendesak menyusul temuan klaster Hantavirus di sebuah kapal pesiar yang melibatkan warga dari 23 negara, termasuk dari Filipina dan Singapura. WHO bahkan telah mengeluarkan *Disease Outbreak News* (DONs) terkait lonjakan kasus penyakit paru berat di kapal tersebut.
Berdasarkan data hingga 8 Mei, terdapat delapan kasus infeksi Hantavirus jenis Andes (ANDV) yang terkonfirmasi laboratorium maupun *probable*. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sehingga rasio kematian mencapai 38 persen. Saat ini, para pasien telah dievakuasi dan tersebar di berbagai negara, yakni Afrika Selatan, Belanda, dan Swiss.
WHO saat ini tengah melakukan investigasi epidemiologi untuk menguji hipotesis penularan. Dugaan sementara, kasus pertama terinfeksi di lingkungan daratan, kemungkinan di Argentina atau Chile, sebelum naik ke kapal. Setelah itu, diduga terjadi penularan dari manusia ke manusia di atas kapal, mengingat pola kemunculan gejala yang bertepatan dengan masa inkubasi virus.
Terkait kekhawatiran meluasnya infeksi, otoritas kesehatan internasional juga sempat melakukan observasi terhadap seorang pramugari KLM yang diduga terpapar. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium per 8 Mei menunjukkan pramugari tersebut negatif Hantavirus. Meski demikian, pemantauan terhadap kontak erat dari para pasien di kapal pesiar tersebut terus dilakukan secara intensif di seluruh dunia.

