MALANG – Bank Indonesia (BI) Malang mendorong penguatan ekonomi daerah melalui optimalisasi transaksi digital QRIS. Upaya tersebut diwujudkan lewat gelaran QRISMA (QRIS untuk UMKM dan Masyarakat) Fest 2026 Volume 1 yang berlangsung di kawasan Heritage Kajoetangan dan Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang.
Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, menyatakan bahwa ajang ini tidak sekadar menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga langkah strategis meningkatkan denyut nadi ekonomi melalui digitalisasi.
“Kami berkomitmen penuh mendukung pengembangan tradisi di Kota Malang, sembari menjaga agar ekonomi di sini menjadi mandiri, tangguh, dan memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Indra saat penutupan acara di Gedung Kesenian Gajayana, Jumat (8/5/2026).
Indra menekankan bahwa digitalisasi kini menjadi kebutuhan mutlak bagi pelaku usaha agar tetap relevan. Namun, ia memastikan transformasi digital tetap berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya leluhur Kota Malang.
Rangkaian acara QRISMA Fest 2026 mencakup berbagai kegiatan, seperti Malang Merchant QRIS Race yang melibatkan 1.120 merchant dari berbagai perbankan. Jumlah tersebut dipilih sebagai simbol perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang.
Selain itu, festival ini menghadirkan workshop digitalisasi bagi UMKM, kompetisi lingkungan bersih, Amazing Race untuk siswa SD, serta lomba kreasi tumpeng.
Puncak apresiasi diraih dengan pemecahan Rekor MURI melalui penjualan 112 tumpeng jajanan tradisional menggunakan transaksi QRIS. Prestasi ini menjadi catatan sejarah baru sebagai transaksi jajanan jadul pertama di Indonesia yang menggunakan metode pembayaran digital.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi BI Malang dalam menghidupkan kembali aset sejarah kota. Menurutnya, penggunaan Gedung Kesenian Gajayana sebagai lokasi utama merupakan langkah tepat untuk menjembatani akar budaya dengan masa depan modern.
“Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi digital sudah menjangkau sektor kuliner tradisional, bukan hanya usaha besar. Sinergi ini menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi bisa berjalan berdampingan untuk memajukan ekonomi Kota Malang tanpa kehilangan jati dirinya,” pungkas Wahyu.

