NEW YORK, Gonesia.com – Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan terbatas pada perdagangan Jumat (24/7/2026) seiring dengan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap stabilitas harga minyak dunia dan kebijakan tarif perdagangan baru.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis sebesar 79,7 poin atau 0,15% ke level 51.791,37 pada pembukaan sesi.
Di sisi lain, indeks S&P 500 terkoreksi 0,03% ke posisi 7.406,3, sementara Nasdaq Composite melemah 0,12% ke level 25.107,38.
Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menetapkan tarif impor baru antara 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang global.
Aturan tarif tersebut menjadi sorotan utama karena diterapkan dengan dalih penegakan larangan barang yang diproduksi melalui kerja paksa.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor krusial yang membayangi pergerakan harga aset berisiko di Wall Street.
Ancaman hukuman militer besar dari pemerintah AS terhadap Iran dan kelompok Houthi menyusul serangan kapal tanker minyak telah memicu volatilitas harga energi.
Harga minyak mentah sempat menyentuh level psikologis US$ 100 per barel pada Kamis kemarin sebelum akhirnya mereda pada hari ini.
Investor tetap menaruh perhatian besar pada risiko inflasi yang dapat muncul jika gangguan pasokan energi terus berlanjut.
Analis Senior Capital.com, Daniela Hathorn, menekankan adanya pergeseran pola pikir investor terhadap sektor teknologi yang selama ini menjadi penggerak utama pasar.
“Pasar kini semakin menghargai eksekusi yang kuat dan tidak lagi mentoleransi belanja besar tanpa prospek imbal hasil yang jelas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menanggapi aksi jual saham teknologi yang terjadi pada sesi sebelumnya setelah laporan keuangan dari raksasa industri seperti Alphabet dan Tesla mengecewakan pelaku pasar.
Kondisi ini memaksa para investor untuk bersikap lebih selektif dalam menaruh modal di tengah demam investasi kecerdasan buatan atau AI.
Meski sektor teknologi secara luas tertekan, Intel memberikan sedikit sentimen positif dengan proyeksi laba dan pendapatan yang melampaui ekspektasi.
Saham produsen chip tersebut sempat menguat 3,3% di perdagangan prapasar setelah mengumumkan rencana peningkatan belanja modal untuk dua tahun ke depan.
Perhatian pasar kini mulai beralih ke agenda rapat kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS telah melonjak menjadi sekitar sepertiga dari total probabilitas.
Angka tersebut mencatat peningkatan tajam dibandingkan posisi pekan lalu yang hanya berada di kisaran 12%.
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menanti rilis data indeks aktivitas manufaktur dan jasa atau PMI periode Juli untuk mengukur kondisi ekonomi terkini.
Laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis setelah rapat The Fed juga menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter ke depan.
Di tengah ketidakpastian pasar, saham Oracle berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 2,3% pasca pengumuman kontrak strategis dengan Departemen Pertahanan AS.
Kontrak senilai hampir US$ 7 miliar tersebut mencakup layanan komputasi awan dan konsolidasi lisensi perangkat lunak untuk jangka waktu 10 tahun.


