Padang – Universitas Andalas (Unand) melepas 1.321 lulusan dalam Wisuda II Tahun 2026 yang berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu (9-10/5/2026). Para wisudawan itu berasal dari 156 program studi yang tersebar di 15 fakultas, menandai selesainya pendidikan mereka di perguruan tinggi negeri tertua di luar Pulau Jawa tersebut.
Di tengah prosesi wisuda, Rektor Unand Efa Yonnedi membuka sambutannya dengan menyampaikan duka cita atas wafatnya Rosina Eflin Kehek, ibu dari wisudawan Thelma Febby Margareth Howay dari Fakultas Farmasi. Almarhumah diketahui berasal dari Sorong, Papua Barat.
Setelah itu, Efa memaparkan sejumlah capaian kampus yang menurutnya terus menunjukkan peningkatan. Unand, kata dia, sudah mengantongi akreditasi institusi Unggul dari BAN-PT yang berlaku hingga Desember 2028. Hingga 2025, sebanyak 57 persen program studi di Unand juga telah berstatus akreditasi Unggul.
Reputasi kampus di kancah internasional ikut menguat. Dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2025, Unand naik ke posisi 8 nasional dari sebelumnya peringkat 10. Pada kategori Interdisciplinary Science Ranking THE, universitas ini berada di rentang 201-250 dunia.
Efa juga menyoroti percepatan transformasi digital di lingkungan kampus. Unand kini menerapkan tanda tangan elektronik pada ijazah, menghadirkan platform MyUNAND untuk layanan mahasiswa dan alumni, menggunakan SAKU Digital untuk efisiensi keuangan, serta menyediakan Pusat Layanan Terpadu.
Seluruh langkah itu, ujarnya, menjadi penanda arah universitas menuju masa depan. Ia menambahkan, sepanjang 2025 Unand telah meluluskan 8.180 wisudawan. Adapun saat ini, komunitas akademik kampus tersebut berisi lebih dari 32.000 mahasiswa aktif dengan lebih dari 156 program studi.
“Semua capaian ini bukan milik pimpinan semata. Ini milik seluruh sivitas akademika,” kata Efa.
Dalam bagian lain sambutannya, ia menyinggung kegelisahan yang kerap muncul usai wisuda, terutama pertanyaan soal dunia kerja. Menurut dia, kebingungan tersebut adalah hal yang wajar.
“‘Saya akan bekerja di mana?’ Itu pertanyaan yang jujur. Itu pertanyaan yang manusiawi. Dan itu pertanyaan yang baik karena ia menunjukkan bahwa ananda siap bergerak,” ujarnya.
Efa menegaskan, dirinya tidak hanya berbicara sebagai rektor, melainkan juga sebagai sosok yang lama mengamati dunia kerja dan dinamika manusia. Karena itu, ia meminta para lulusan tidak panik bila belum langsung memperoleh pekerjaan setelah diwisuda.
Ia menilai pekerjaan pertama bukan penentu arah hidup, melainkan titik awal pembelajaran. Lulusan, katanya, tidak perlu terburu-buru menerima pekerjaan yang keliru hanya karena takut dianggap menganggur.
“Yang membedakan orang sukses bukan di mana ananda mulai tapi bagaimana ananda belajar dan bergerak dari titik awal itu. Mulailah. Dari mana saja yang bisa dimulai,” tuturnya.
Efa juga mengingatkan bahwa pasar kerja tak semata mencari ijazah. Karakter, menurut dia, justru menjadi pembeda utama. Ijazah membuka pintu, tetapi karakter yang membuat seseorang bertahan di dalamnya. Disiplin, komunikasi, kejujuran, dan inisiatif disebutnya sebagai modal yang sangat berharga.
Ia meminta lulusan membangun reputasi sejak hari pertama bekerja. Rasa belum tahu, katanya, justru harus diubah menjadi dorongan untuk bertanya dan belajar. Reputasi, lanjutnya, terbentuk dari konsistensi terhadap hal-hal kecil yang dilakukan berulang.
Pesan lain yang ia tekankan adalah agar lulusan tidak merendahkan diri, namun juga tidak menuntut sebelum memberi kontribusi.
“Ananda adalah lulusan universitas terakreditasi Unggul, dari kampus yang diakui dunia, kalian punya nilai yang nyata. Tapi tunjukkan dulu kontribusimu sebelum menuntut penghargaan,” ucapnya.
Efa juga menggarisbawahi pentingnya silaturahmi dan jaringan. Menurut dia, banyak kesempatan terbuka bukan karena lamaran, melainkan lewat rekomendasi. Karena itu, hubungan dengan dosen, teman kuliah, dan senior kampus perlu terus dijaga.
Pada bagian akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa lulusan Unand bukan hanya dituntut mencari nafkah, tetapi juga meninggalkan warisan. Ia mengutip pepatah Minang, “Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badil, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuaik paangkuik baban, nan pandai tampek batanyo, nan cadiak lawan barundiang.”
“Setiap orang punya peran. Setiap orang punya tempat. Yang penting kenali kelebihanmu, tempatkan dirimu dengan tepat, dan berikan yang terbaik dari apa yang kamu miliki,” katanya.
Unand sendiri tengah bersiap merayakan Dies Natalis ke-70 dengan tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak.”

