SIDOARJO – Tim SAR gabungan terus mengevakuasi korban di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, setelah tragedi robohnya gedung. Hingga Jumat malam, 3 Oktober, 14 jenazah korban telah ditemukan, sementara 49 orang lainnya masih dalam pencarian intensif.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada Sabtu, 4 Oktober, mengatakan total korban terdampak insiden ini mencapai 167 orang. Dari jumlah tersebut, 118 orang sudah ditemukan, sementara 49 orang lainnya masih dicari.
Dia merinci, 103 orang ditemukan selamat namun memerlukan penanganan medis, satu orang selamat telah kembali ke rumah karena tidak memerlukan penanganan medis, dan 14 orang meninggal dunia.
Dari korban selamat yang ditemukan, 14 orang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 89 lainnya sudah diizinkan pulang ke rumah masing-masing. Data ini didasarkan pada daftar absensi pondok pesantren.
Peristiwa robohnya bangunan empat lantai Pondok Pesantren Al-Khoziny diduga akibat kegagalan konstruksi pada 29 September lalu. Berdasarkan data absensi awal, 91 korban diperkirakan tertimbun reruntuhan bangunan.
Abdul Muhari menjelaskan, perubahan jumlah data terjadi karena berbagai faktor. Misalnya, ada nama-nama yang sebenarnya selamat atau tidak berada di lokasi kejadian saat insiden terjadi, namun tidak melaporkan diri.
Sejak Kamis, 2 Oktober, proses evakuasi telah difokuskan pada pencarian korban meninggal dunia. Kepala BNPB, Letnan Jenderal Suharyanto, menyatakan bahwa tim SAR gabungan menggunakan alat berat karena tidak lagi menemukan tanda-tanda korban selamat.
Penggunaan alat berat ini dilakukan setelah asesmen dan kesepakatan dengan keluarga korban. “Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim SAR gabungan memutuskan untuk masuk ke tahap selanjutnya, yakni mengevakuasi korban yang sudah meninggal dunia menggunakan alat berat,” ujar Suharyanto.


