Jakarta – Pemerintah mengumumkan peningkatan signifikan alokasi subsidi energi dan non-energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025. Total dana yang digelontorkan mencapai Rp 281,6 triliun, mencakup subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram, listrik, pupuk, dan perumahan.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menekankan bahwa peningkatan volume barang bersubsidi di tahun 2025 merupakan wujud keberpihakan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Realisasi penyaluran BBM bersubsidi hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar 18.979,3 ribu kilo liter, naik 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyaluran subsidi LPG 3 kilogram juga mengalami peningkatan sebesar 3,9 persen, dari 8.226,5 juta kilogram menjadi 8.554,9 juta kilogram.
Sementara itu, jumlah pelanggan listrik bersubsidi meningkat 2,6 persen, dari 41,7 juta menjadi 42,8 juta pelanggan.
Subsidi pupuk juga mengalami kenaikan signifikan, yakni sebesar 12,1 persen, dari 7,2 juta ton menjadi 8,1 juta ton.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada subsidi perumahan. Pemerintah mencatat peningkatan jumlah rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah mencapai 278,9 ribu unit, melonjak 39,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 200 unit.
Menurut Suahasil, realisasi subsidi energi sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas, nilai tukar rupiah, dan volume penyaluran.
Untuk subsidi non-energi seperti pupuk, pemerintah berupaya mempercepat penyaluran dengan menyederhanakan regulasi, dengan tujuan menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi.
Sepanjang tahun 2025, realisasi anggaran subsidi mencapai 91,4 persen dari target yang dialokasikan.
Untuk tahun depan, pemerintah memproyeksikan anggaran subsidi energi dan non-energi akan meningkat menjadi Rp 318,9 triliun, dengan komposisi subsidi energi sekitar Rp 210,1 triliun dan non-energi sebesar Rp 108,8 triliun.


