Jakarta, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah 0,15% ke level 17.721 pada perdagangan hari ini, Senin (24/8).
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global.
Selain faktor eksternal, sentimen negatif juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai US$ 12,5 miliar pada kuartal II 2026.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi yang dikutip dari Katadata menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu aksi AS yang menyatakan bakal mengumumkan rangkaian sanksi ekonomi pada Senin (24/8).
Ia menambahkan, sanksi yang akan diberikan tersebut diperkirakan akan menjadi yang paling keras bagi Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam artikel opini untuk Financial Times menyebut, “D-Day ekonomi” bagi Iran akan segera tiba.
Bessent rencananya akan memaparkan sanksi baru tersebut dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT.
Rencana ini muncul di tengah kebuntuan yang masih berlangsung di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Pemerintah AS telah memperingatkan akan melakukan perang ekonomi secara masif terhadap Iran dalam waktu dekat.
Pihak Iran pun mengecam keras rencana sanksi baru yang diinisiasi oleh Washington tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee bahkan mengancam tidak akan ada minyak Iran yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun wilayah Teluk Persia apabila tekanan ekonomi terus berlanjut.
Ibrahim menilai perkembangan tersebut secara langsung meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global yang berdampak pada volatilitas mata uang.
Di sisi lain, aktivitas bisnis sektor jasa di Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang sangat kuat sepanjang Agustus 2026.
Indeks PMI Jasa S&P Global AS tercatat mencapai 56,8, naik dari posisi 54,6 pada bulan sebelumnya.
Capaian tersebut sekaligus menjadi level tertinggi sejak Desember 2024 dan melampaui perkiraan pasar di angka 54.
Namun, PMI manufaktur AS justru melambat dari 53,9 menjadi 53,2 atau menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir.
Kondisi ekonomi AS yang kontras ini membuat pasar mencermati kembali arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi global berpotensi membuat ruang penurunan suku bunga Fed semakin terbatas.
Sementara itu, dari dalam negeri, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 3,3% terhadap PDB pada kuartal II 2026.
Angka ini meningkat tajam dibandingkan defisit pada kuartal I yang hanya sebesar 1% terhadap PDB atau setara US$ 3,6 miliar.
Pelebaran defisit tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan volume impor minyak seiring tingginya harga komoditas energi dunia.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kenaikan harga energi global dapat kembali meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia.
Meskipun demikian, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan dinilai masih relatif terjaga.
NPI pada kuartal II 2026 mencatat defisit US$ 900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$ 9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Perbaikan tersebut ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus sebesar US$ 12 miliar.
Posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juni 2026 tercatat masih kuat di angka US$ 145,6 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa ini masih berada di atas standar kecukupan internasional yang ditetapkan sekitar tiga bulan impor.


