Jakarta – Pemerintah menegaskan akan menjaga laju pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan pelaku usaha tetap mendapat sokongan pembiayaan dari sistem perbankan. Menteri Keuangan Purbaya menyebut, pemerintah ingin dunia usaha tidak kehilangan kepercayaan di tengah situasi ekonomi yang masih bergerak positif.
“Pebisnis nggak usah takut, (ekonomi) kita akan membaik terus ke depan. Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup di sistem perekonomian sehingga dunia usaha bisa dapat akses ke pembelian,” kata Purbaya saat ditemui di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan agar aktivitas usaha tetap berjalan, termasuk untuk menopang ekspansi bisnis.
Di sisi lain, dunia usaha menilai pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 sebesar 5,61 persen belum sepenuhnya mengalir ke sektor riil. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, sejumlah indikator makro memang menunjukkan kinerja yang solid, mulai dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, hingga pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Namun, menurut Shinta, yang menjadi perhatian utama justru bagaimana pertumbuhan itu benar-benar tersambung ke aktivitas bisnis sehari-hari.
“Namun demikian bagi dunia usaha, yang juga menjadi perhatian adalah transmission mechanism dari pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil. Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar -0,77 persen, dan bahkan pada saat yang sama sektor manufaktur juga mengalami kontraksi kuartalan sebesar -1,01 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Shinta juga menyoroti pelemahan rupiah yang berlangsung sejak awal tahun. Pada Januari, rupiah berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS. Menjelang akhir kuartal I, nilainya mendekati Rp17.000 per dolar AS, dan kini berada di sekitar Rp17.400 per dolar AS.
Kondisi itu, kata dia, menciptakan tekanan yang tidak merata bagi pelaku usaha. Pertumbuhan ekonomi memang tetap berjalan, tetapi biaya produksi ikut naik, terutama bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku, depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, menekan margin, dan dalam banyak kasus membatasi kemampuan ekspansi usaha,” jelasnya.
Ia menegaskan, banyak perusahaan kini menghadapi penyempitan margin di level mikro meski secara makro ekonomi terlihat masih kuat.
Menurut Shinta, kombinasi pertumbuhan yang tinggi dan pelemahan rupiah menunjukkan dua sisi ekonomi nasional. Di satu sisi, fundamental domestik dinilai tetap solid. Di sisi lain, tekanan dari faktor eksternal masih cukup besar.
Ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, dan gejolak pasar keuangan global disebut ikut memberi pengaruh terhadap stabilitas nilai tukar.
“Bagi dunia usaha, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana kombinasi ini ke depan dapat mempengaruhi biaya produksi, daya beli masyarakat, serta keputusan investasi,” ujarnya.

