[Jakarta] – Skema penyaluran untuk pesantren disesuaikan dengan aktivitas belajar yang bisa berlangsung selama lima hingga enam hari dalam sepekan.
Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya sinkronisasi data antara kementeriannya dan BGN guna memastikan akurasi serta transparansi penerima manfaat. Ia mengingatkan agar tidak terjadi perbedaan metode penghitungan yang berpotensi menimbulkan celah penyimpangan.
"Perlu ada penyempurnaan data. Jangan sampai yang satu menghitung piring, yang lain menghitung kepala (siswa). Jangan sampai di situ ada ruang yang bisa disalahgunakan," tutur Nasaruddin.
Data terkini per 1 April 2026 menunjukkan penerima manfaat MBG di madrasah mencapai sekitar 3.980.107 siswa atau 37,9 persen dari total siswa. Mereka tersebar di 26.773 madrasah atau 30,6 persen dari jumlah lembaga yang telah terjangkau program.
Sementara itu, santri penerima manfaat MBG tercatat sebanyak 654.879 anak atau 10,4 persen dari total santri, tersebar di 4.576 pesantren atau 10,8 persen.
Pemerintah menilai perbaikan tata kelola dan sinkronisasi data menjadi kunci untuk memperluas jangkauan program sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran, khususnya bagi santri dan daerah dengan tingkat kerentanan gizi tinggi.

