Spanyol – Sebuah studi terbaru menepis anggapan bahwa lari maraton dapat membahayakan otak. Sebaliknya, penelitian yang dipublikasikan di jurnal *Nature Metabolism* ini mengungkapkan kemampuan luar biasa otak untuk beradaptasi selama aktivitas fisik ekstrem, dengan sementara waktu memanfaatkan cadangan energi dari mielin dan kemudian sepenuhnya memulihkannya.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Carlos Matute dari University of the Basque Country (EUH) ini memberikan gambaran menenangkan bagi para pelari. Temuan ini menegaskan bahwa otak tidak mengalami kerusakan permanen saat menghadapi tantangan metabolik lari 42 kilometer.
Tim peneliti memindai otak 10 pelari berusia 45–73 tahun menggunakan teknologi MRI canggih. Pemindaian dilakukan sebelum, sesudah, serta dua minggu dan dua bulan pasca-maraton untuk mengamati perubahan pada otak.
Fokus utama adalah pada *myelin water fraction* (MWF), sebuah penanda sensitif yang mengukur jumlah air dalam lapisan mielin. Mielin sendiri adalah selubung lemak pelindung serabut saraf, berperan vital dalam transmisi sinyal otak.
Hasilnya menunjukkan penurunan signifikan MWF hingga 28% pada 12 area materi putih otak yang terlibat dalam pengiriman sinyal gerakan dan sensorik. Penurunan terbesar terjadi pada *pontine crossing tracts* dan *corticospinal tracts*.
Profesor Matute menjelaskan fenomena ini sebagai “metabolic myelin plasticity.” Ia berpendapat bahwa otak menggunakan lipid dari mielin sebagai sumber energi darurat ketika kadar glukosa menurun drastis selama lomba jarak jauh.
Ini sejalan dengan penelitian pada hewan yang mengindikasikan bahwa sel oligodendrosit mampu memobilisasi asam lemak untuk mendukung neuron di bawah tekanan metabolik. Mengingat mielin terdiri dari 70–80% lemak, penggunaan cadangan ini dinilai logis.
Meski demikian, penurunan mielin ini bukan pertanda kerusakan kognitif. Studi ini tidak mengukur fungsi kognitif seperti daya ingat, dan sebagian besar penelitian sebelumnya justru mengaitkan aktivitas fisik rutin dengan peningkatan kecepatan berpikir dan memori seiring bertambahnya usia.
Kabar baiknya, otak menunjukkan kemampuan pemulihan yang cepat. Dua minggu setelah maraton, MWF mulai meningkat, dan dalam waktu dua bulan, kadarnya telah kembali normal. Ini menunjukkan bahwa lapisan pelindung saraf otak dapat diperbaiki sepenuhnya setelah tantangan metabolik.
Profesor Matute menegaskan, “Lari maraton tidak berbahaya bagi otak. Sebaliknya, penggunaan dan penggantian mielin sebagai cadangan energi bermanfaat karena melatih mesin metabolik otak.”
Studi ini memberikan wawasan penting tentang fleksibilitas metabolik otak dan berpotensi membantu penelitian penyakit demielinasi seperti *multiple sclerosis*. Bagi para pelari, temuan ini memberikan jaminan: tidak ada alasan untuk menghindari maraton demi kesehatan otak. Otak kita terbukti mampu beradaptasi, meminjam energi dari mielin saat dibutuhkan, lalu membangunnya kembali setelah beristirahat.


