Lifestyle

Fenomena Hyrox: Mengapa Banyak Orang Rela Mengeluarkan Biaya untuk Bertanding?

Jakarta – Ajang kompetisi kebugaran global, Hyrox, mencatatkan rekor partisipasi tertinggi di kawasan Asia Pasifik saat perdana digelar di Jakarta pada 27-28 Juni 2026. Sebanyak 11.500 peserta memadati arena untuk menyelesaikan tantangan yang menggabungkan lari sejauh delapan kilometer dengan delapan stasiun latihan beban fungsional.

Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari ludesnya tiket pertandingan hanya dalam waktu beberapa pekan sebelum acara dimulai. Meski memakan biaya pendaftaran hingga jutaan rupiah, ditambah investasi untuk peralatan dan pelatihan khusus, para peserta tidak mengurungkan niat untuk berpartisipasi. Fenomena ini mengukuhkan Hyrox sebagai salah satu kompetisi olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Perwakilan Hyrox APAC, William Petty, menyatakan bahwa kesuksesan di Jakarta membuktikan daya tarik hybrid race yang kini telah hadir di lebih dari 30 negara. Format perlombaan yang mengintegrasikan functional fitness seperti sled push, burpee broad jump, dan wall ball di sela-sela lari dianggap sebagai tantangan fisik yang unik dan komprehensif bagi para penghobi kebugaran.

Salah satu peserta kategori Mixed Doubles Open, Hamida Dwiningtias, mengungkapkan bahwa Hyrox bukan sekadar ajang adu kecepatan, melainkan pembuktian ketahanan fisik secara menyeluruh. Bagi seorang rescuer ASN Basarnas ini, persiapan yang intensif selama dua bulan menjadi kunci untuk menyelesaikan simulasi yang menantang tersebut.

“Hyrox benar-benar mengetes kemampuan fisik secara menyeluruh. Tidak ada syarat khusus untuk ikut, namun fondasi kebugaran sangat krusial agar pengalaman bertanding tetap aman dan menyenangkan,” ujar Hamida. Ia berhasil menuntaskan tantangan tersebut dengan catatan waktu 1 jam 18 menit 42 detik.

Daftar 5 Calon Manajer Kopdes Merah Putih yang Meninggal Saat Latsarmil

Senada dengan Hamida, peserta kategori Men’s Singles Open, Dedi Setiawan, memandang kompetisi ini sebagai bentuk selebrasi atas konsistensi berolahraga. Bagi Dedi, pengeluaran untuk tiket dan perlengkapan dirasa sepadan dengan manfaat kesehatan yang diperoleh. “Ini lebih ke selebrasi setelah latihan rutin. Yang penting bisa finish strong,” ungkapnya.

Secara bisnis, Hyrox menunjukkan performa moncer di skala global. Didirikan oleh atlet hoki Olimpiade asal Jerman, Moritz Fürste, pada 2017, kompetisi ini telah berkembang pesat dari inisiatif lokal menjadi bisnis bernilai triliunan rupiah. Berdasarkan laporan CNBC, Hyrox diproyeksikan meraup pendapatan hingga US$270 juta atau setara Rp4,86 triliun pada tahun ini dari total 121 acara yang tersebar di 34 negara.

Dengan target 1,5 juta peserta di seluruh dunia, pihak penyelenggara optimistis bahwa disiplin olahraga hybrid ini memiliki peluang besar untuk dipertandingkan di ajang Olimpiade dalam satu dekade mendatang. Kesuksesan debut di Jakarta menjadi indikator kuat bahwa tren gaya hidup sehat berbasis kompetisi fungsional semakin diminati oleh masyarakat urban di Indonesia.

Komentar
Pre-booking DFSK E5 Plus Dibuka Jelang GIIAS 2026, Cukup Rp5 Ribu

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Pemko Padang Optimalkan Digitalisasi Bansos Tepat Sasaran

05

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

06

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

07

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru