Bandung – Jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung telah mencapai 6,5 juta orang hingga triwulan III 2025. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan capaian pada periode Januari hingga Juni 2025 yang tercatat sebanyak 3,53 juta kunjungan.
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Kota Bandung optimistis target kunjungan wisatawan tahunan sebesar 8,7 juta orang pada 2025 akan tercapai. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, Sabtu, 11 Oktober 2025.
Menurut Adi, kuliner menjadi daya tarik utama yang memikat para pelancong untuk datang ke Kota Bandung. Sekitar 60 persen wisatawan mengunjungi kota ini khusus untuk menikmati aneka sajian kuliner khas.
“Kuliner menjadi magnet utama wisata Bandung. Sisanya ada wisata belanja, *fashion*, dan *heritage*. Bandung memang dikenal punya daya cipta kuliner yang khas dan selalu baru,” jelas Adi.
Ia menambahkan, wisatawan yang datang ke Bandung kini lebih tertarik pada pengalaman otentik dan kelokalan kota, bukan semata-mata kunjungan ke tempat hiburan. Adi mendorong pelaku UMKM untuk terus memperkuat citra Bandung sebagai kota kuliner kreatif.
Selain kuliner, beberapa destinasi populer yang kerap dikunjungi wisatawan antara lain Kawasan Kota Tua Bandung, Masjid Raya Al Jabbar, Museum Geologi, Saung Angklung Udjo, Taman Lalu Lintas, dan Kiara Artha Park.
“Pola kunjungan wisatawan kini makin merata. Tak hanya pusat kota, tetapi juga ke destinasi-destinasi di pinggiran yang menawarkan suasana baru,” ujarnya.
Adi mengungkapkan, wisatawan domestik masih mendominasi kunjungan ke Bandung dibandingkan wisatawan asing. Namun, Bandung tetap menjadi salah satu kota tujuan favorit bagi wisatawan mancanegara dari Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Untuk meningkatkan kunjungan, Disbudpar Kota Bandung rutin menggelar berbagai kegiatan promosi. Ini termasuk *travel dialog*, *table top*, hingga pameran di kota-kota besar seperti Surabaya, Solo, dan Medan. “Bahkan tahun ini kita ikut dalam pameran internasional seperti MATTA Fair di Malaysia,” pungkas Adi.


