Hong Kong – Pasar saham Asia dibuka dengan pergerakan beragam pada perdagangan Rabu, di tengah kekhawatiran investor atas memanasnya kembali konflik Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk menghentikan ketegangan.
Di Korea Selatan, indeks Kospi langsung mencuri perhatian. Pada awal perdagangan, indeks utama itu melonjak 3,67 persen dan menorehkan rekor tertinggi baru. Penguatan tersebut menjadikan Kospi sebagai indeks dengan kenaikan paling tajam di Asia pada sesi pembukaan. Indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, juga bergerak naik.
Bursa Jepang turut menguat. Indeks Nikkei 225 naik sekitar 0,81 persen, sementara Topix bertambah 0,32 persen. Sentimen positif di Tokyo muncul meski pelaku pasar masih memantau dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi dunia.
Berbeda dengan Korea Selatan dan Jepang, pasar Australia justru tertekan. Indeks S&P/ASX 200 melemah sekitar 0,71 persen karena investor khawatir lonjakan harga minyak akan memperbesar tekanan inflasi serta meningkatkan biaya energi.
Pasar China bergerak datar. Shanghai Composite turun tipis di zona merah, sedangkan kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong mengindikasikan pembukaan yang lebih lemah.
Kekhawatiran utama investor global saat ini tertuju pada lonjakan harga minyak. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik lebih dari 3 persen ke kisaran 98 dolar AS per barel. Sementara itu, Brent ikut menguat dan menembus di atas 104 dolar AS per barel.
Pergerakan itu dipicu kekhawatiran soal terganggunya pasokan energi global apabila Iran benar-benar menutup Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Ketegangan meningkat setelah Iran mengajukan proposal baru kepada negosiator AS untuk mengakhiri perang dan meminta pencabutan sanksi terhadap Teheran. Namun, Trump menolak tawaran itu dan menyebut respons Iran “sama sekali tidak dapat diterima”.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang dengan Iran “belum berakhir”. Pernyataan itu ikut menambah kekhawatiran pasar bahwa konflik di Timur Tengah masih berpeluang meluas.

