Jakarta – Geisz Chalifah berharap Persija Jakarta kembali meraih gelar juara dan menghidupkan lagi euforia seperti saat Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta. Ia menilai kemenangan tim ibu kota akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Jakarta, termasuk Jakmania yang selama ini setia mendukung klub kebanggaan mereka.
Geisz juga mengingat kembali peristiwa saat Anies Baswedan sempat dilarang turun ke lapangan oleh Pasukan Pengamanan Presiden ketika berada di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada era Presiden Joko Widodo. Menurut dia, perlakuan itu terasa tidak wajar di mata banyak orang. Meski begitu, ia mengatakan Anies tidak memilih memperpanjang persoalan tersebut dan tak memberi komentar lebih jauh.
Ia kemudian menyinggung hubungan Persija dengan warga Jakarta yang menurutnya sudah mengakar sejak lama. Geisz mengaku telah mengikuti Persija sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, dari era Andi Lala, Sutan Harhara, hingga Anjas Asmara, termasuk berbagai momen ketika klub itu berulang kali menjuarai kompetisi.
Namun, ia menyoroti keputusan memindahkan laga besar Persija kontra Persib keluar dari Jakarta dan dimainkan di Kalimantan Timur. Menurutnya, langkah itu merugikan Persija sebagai tuan rumah sekaligus menjauhkan pertandingan dari basis suporternya sendiri.
Geisz menyebut kondisi itu sebagai bukti buruknya tata kelola sepak bola nasional. Ia menilai liga berjalan tanpa arah yang jelas, tidak memihak pada prinsip keadilan kompetisi, serta kerap mengabaikan kepentingan klub maupun suporter. Ia juga menuding PSSI berulang kali menunjukkan ketidakmampuan mengelola sepak bola secara profesional.
Dalam pandangannya, marwah kompetisi turun ketika keputusan-keputusan penting justru terasa tidak masuk akal bagi publik sepak bola. Meski demikian, ia tetap berharap Jakmania menjaga sikap apa pun hasil pertandingan yang berlangsung hari itu.
“Datang dengan semangat, pulang dengan kehormatan,” tulis Geisz.
Ia meminta suporter tidak melampiaskan emosi dengan merusak kursi, pagar, maupun rumput stadion. Suporter besar, menurut dia, tidak diukur dari kerasnya suara di tribun, melainkan dari kemampuan menjaga martabat kota yang dibelanya.
Geisz juga menyinggung kembali tindakan Erick Thohir dan kelompoknya yang disebut pernah merusak rumput Jakarta International Stadium demi kepentingan politik. Ia menyebut tindakan itu barbar dan menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa mendorong orang merusak fasilitas publik demi menjatuhkan lawan politik.
Publik, lanjut dia, tak boleh melupakan bahwa kerusakan rumput JIS bukan dipicu pertandingan sepak bola, melainkan kebencian politik yang dibungkus pencitraan. Dari situ, ia menegaskan bahwa sepak bola seharusnya melahirkan kebanggaan dan persaudaraan, bukan kebisingan serta kedengkian.
Karena itu, Geisz menutup pesannya dengan ajakan agar kemenangan dirayakan secara elegan dan kekalahan diterima dengan bermartabat. Jika ada suporter yang pulang tanpa merusak apa pun, tanpa menginjak rumput stadion, dan tanpa bertingkah kasar, menurut dia, mereka setidaknya telah menunjukkan akhlak yang justru gagal diperlihatkan Erick Thohir.
Geisz Chalifah
Pegi at demokrasi

