JAKARTA, Gonesia.com – PT Indosat Tbk (ISAT) memutuskan untuk melakukan revisi ambisius terhadap rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun 2026 dengan lonjakan signifikan sebesar 77 persen.
Keputusan strategis ini diambil sebagai respons langsung atas keberhasilan perusahaan dalam memenangkan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli lalu.
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengungkapkan bahwa alokasi dana investasi yang semula dipatok Rp 13 triliun kini membengkak menjadi Rp 23 triliun.
Ia menyatakan dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026, dikutip dari Katadata, “Kami juga meningkatkan panduan belanja modal (capex). Semula kami mengalokasikan Rp 13 triliun, kini meningkat menjadi Rp 23 triliun.”
Tambahan modal sebesar Rp 10 triliun tersebut secara eksklusif akan diarahkan untuk mengakselerasi pengembangan infrastruktur jaringan 5G di seluruh Indonesia.
Langkah ini dipandang sebagai eksekusi kunci setelah Indosat resmi mendapatkan hak atas spektrum baru pada 10 Juli 2026.
Vikram menjelaskan bahwa tambahan spektrum tersebut berfungsi sebagai fondasi vital bagi pertumbuhan jangka panjang bisnis perusahaan.
Ia menegaskan, “Kami sangat disiplin dalam memperoleh spektrum yang memang kami butuhkan, dan kini fokus kami adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh hampir 100 juta pelanggan kami.”
Menurutnya, investasi besar ini bertujuan memperkuat identitas digital pelanggan serta meningkatkan kualitas pengalaman pengguna secara menyeluruh.
Sebelum memenangkan lelang terbaru, Indosat tercatat memiliki kepemilikan spektrum sebesar 135 MHz.
Kini, dengan tambahan 20 MHz pada pita 700 MHz dan 60 MHz pada pita 2,6 GHz, total spektrum yang dikuasai perusahaan mencapai 215 MHz.
Angka tersebut merepresentasikan sekitar 30,2 persen dari total spektrum seluler nasional yang tersedia.
Ekspansi agresif ini didukung oleh performa keuangan yang solid sepanjang semester I 2026.
Hingga Juni 2026, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 30,7 triliun, atau tumbuh 13,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba periode berjalan juga mengalami lonjakan drastis menjadi Rp 4,42 triliun dari sebelumnya Rp 2,51 triliun pada semester I 2025.
Pertumbuhan ini dipicu oleh kenaikan trafik data sebesar 19,9 persen dan peningkatan average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3 persen menjadi Rp 46 ribu.
Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menambahkan bahwa pemanfaatan spektrum baru akan dilakukan secara kombinasi.
Ia menjelaskan, “Dengan adanya 700 MHz akan meningkatkan coverage (jangkauan layanan) dan 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas.”
Kombinasi spektrum tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung perluasan layanan 5G yang lebih luas dan stabil.
Perusahaan kini membidik peluang monetisasi baru melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan berbagai inovasi digital berbasis 5G.
Ia mengatakan, “Dengan tambahan spektrum yang semakin kuat, kita melihat tidak hanya meningkatkan kapasitas jaringan tapi juga membuka ruang untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik kepada para pelanggan kami.”
Pihak manajemen meyakini bahwa kehadiran infrastruktur 5G yang lebih matang akan memicu gelombang inovasi digital baru di pasar domestik.
Inisiatif ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi percepatan transformasi digital Indonesia di masa depan.


