Berikut hasil penulisan ulang berita:

Karibia – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tensi dengan Venezuela setelah melakukan penyitaan terhadap sebuah kapal tanker minyak yang berlabuh di negara tersebut. Langkah ini dipicu oleh klaim AS terkait peredaran minyak ilegal untuk pendanaan terorisme dan narkoba.
Penyitaan kapal berbendera Panama, Centuries, terjadi di perairan dekat Barbados, Karibia. Aksi ini menambah daftar panjang tindakan kontroversial AS di kawasan tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer dengan Venezuela.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan komitmen negaranya untuk menindak peredaran minyak ilegal yang terkait dengan aktivitas terorisme dan narkoba. Namun, langkah ini memicu kecaman keras dari Venezuela.
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, mengecam penyitaan tersebut sebagai tindakan “pencurian dan penculikan”, dan berjanji akan mengambil langkah hukum di tingkat internasional, termasuk membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB.
Pakar hukum internasional, Jeremy Paner, menilai penyitaan kapal yang tidak dikenai sanksi AS sebagai eskalasi tekanan terhadap Venezuela. Tindakan ini juga dinilai bertentangan dengan pernyataan sebelumnya terkait blokade terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi.
Sejak penyitaan kapal tanker pertama, ekspor minyak mentah Venezuela mengalami penurunan tajam. Banyak kapal yang mengangkut jutaan barel minyak memilih untuk bertahan di perairan Venezuela, menghindari risiko penyitaan oleh AS.
Meskipun demikian, Cina tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Venezuela. Pada Desember lalu, pengiriman minyak ke Cina mencapai rata-rata lebih dari 600.000 barel per hari.
Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, juga turut angkat bicara. Ia memperingatkan AS terhadap intervensi bersenjata di Venezuela, dan menekankan bahwa tindakan tersebut akan menjadi “bencana kemanusiaan” dan preseden berbahaya bagi dunia.


