Banyuwangi – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat pergerakan signifikan penumpang dan kendaraan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2026 di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Lebih dari 381 ribu orang menyeberang dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk dalam kurun waktu 15-30 Desember 2025.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyatakan bahwa fleksibilitas perjalanan, didorong oleh kebijakan *Work From Anywhere* (WFA), menjadi faktor utama peningkatan mobilitas ini.
“Fleksibilitas perjalanan ini berdampak pada meningkatnya mobilitas, baik kendaraan pribadi, roda dua, maupun logistik,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Meskipun jumlah penumpang yang menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk mengalami penurunan 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah kendaraan justru naik 1,1% menjadi 101.562 unit.
Sebaliknya, pergerakan dari Bali ke Jawa menunjukkan tren serupa. Total penumpang tercatat 374.347 orang, turun 4,4%, sementara total kendaraan naik 2,3% mencapai 106.476 unit. Arus kendaraan dari Bali didominasi oleh kendaraan roda dua dan truk logistik.
Posko Pelabuhan Gilimanuk mencatat pada 30 Desember 2025, jumlah penumpang mencapai 27.826 orang, naik 6,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Total kendaraan yang menyeberang mencapai 8.350 unit, naik 18,3%, dengan kenaikan signifikan pada truk logistik (34,6%) dan kendaraan roda dua (24,6%).
Untuk mengantisipasi lonjakan trafik, ASDP telah menyiapkan 55 kapal dan 17 dermaga, didukung oleh ratusan petugas operasional di Ketapang dan Gilimanuk.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menambahkan bahwa *delaying system* dan *buffer zone* diterapkan di sejumlah titik untuk kelancaran arus.
Dermaga ponton di Pelabuhan Ketapang disiagakan sebagai dermaga perbantuan untuk mendukung bongkar muat dari Gilimanuk jika diperlukan.
“Dermaga ponton kami siagakan sebagai opsi pendukung. Pengoperasiannya bersifat situasional dan akan digunakan bila kondisi lapangan membutuhkan percepatan layanan,” jelas Windy.
ASDP terus berkoordinasi dengan BMKG, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, serta Balai Pengelola Transportasi Darat untuk memastikan keamanan operasional penyeberangan di tengah potensi perubahan cuaca.


