Jakarta – Banjir dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera diperkirakan telah memicu kerugian ekonomi mencapai angka fantastis Rp 68,67 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menurut estimasi Center of Economics and Law Studies (Celios) pada 3 Desember 2025.
Kerugian signifikan ini terdistribusi di tiga provinsi yang paling parah terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya meluas, tidak hanya menggerus ekonomi regional tetapi juga berpotensi menyeret pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Kamis, 4 Desember 2025, mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah bencana tersebut dipastikan akan melemah. Pernyataan ini ia sampaikan menanggapi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat yang ditargetkan maksimal 5,6 persen.
Untuk meredam dampak kerugian, Airlangga memastikan pemerintah akan menggelontorkan sejumlah kebijakan relaksasi keuangan. Salah satunya adalah restrukturisasi dan penghapusan kredit macet bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah terdampak, dengan regulasi yang sudah tersedia dan dapat berlaku otomatis.
Selain itu, pemerintah juga akan mengimplementasikan program perbaikan infrastruktur serta rehabilitasi menyeluruh di area-area yang mengalami kerusakan akibat banjir.
Ekonom Celios, Nailul Huda, menjelaskan bahwa bencana tersebut menimbulkan dampak ekonomi langsung dan tidak langsung. Dampak langsung meliputi kerusakan rumah penduduk, rusaknya infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan, hingga hilangnya produksi di lahan pertanian yang terendam.
Sementara itu, dampak tidak langsung muncul dari terganggunya arus barang konsumsi dan industri. Misalnya, pasokan barang dari Jawa Barat yang terhambat masuk ke Sumatera Barat, atau berkurangnya pasokan cabai dari Sumatera Barat ke Riau yang dapat memicu kenaikan harga. Menurut Huda, semua ini saling berkaitan, sehingga bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara memiliki efek domino terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.


