Jakarta – Abdul Azis Sefudin mendorong penguatan literasi kebencanaan agar masuk dalam kurikulum sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler secara menyeluruh.
Upaya ini dinilai penting sebagai bagian dari pendidikan karakter, terutama bagi generasi muda yang hidup di wilayah rawan bencana seperti Indonesia.
Menurut Azis, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya bersifat insidental saat terjadi bencana, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan.
"Kita tidak bisa hanya reaktif. Literasi kebencanaan harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak memiliki kesadaran, kesiapsiagaan, dan kemampuan mitigasi yang baik," kata dia, Senin (6/4/2026).
Azis menuturkan, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter tangguh terhadap bencana. Melalui integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum maupun aktivitas ekstrakurikuler seperti simulasi evakuasi, pelatihan dasar tanggap darurat, hingga pengenalan risiko bencana lokal, siswa dapat dibekali pemahaman yang sangat aplikatif.
"Materi kebencanaan ini bisa dikemas secara kontekstual dan menarik, tidak harus selalu dalam bentuk teori di kelas. Bisa melalui praktik langsung, simulasi, bahkan kolaborasi dengan pihak terkait agar siswa benar-benar paham apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi," ungkap Azis.
Menurutnya, pendekatan pendidikan karakter berbasis kebencanaan akan membangun sikap disiplin, gotong royong, serta kepedulian sosial di kalangan

