Makkah – Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf memimpin rapat evaluasi layanan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tepat setelah seluruh jemaah haji Indonesia meninggalkan Mina dan kembali ke hotel di Makkah. Pertemuan itu digelar di Daker Makkah pada Sabtu (30/5), sesaat setelah fase puncak ibadah haji dinyatakan rampung.
Hingga pukul 15.00 Waktu Arab Saudi, seluruh jemaah Indonesia yang mengikuti skema Nafar Tsani sudah keluar dari Mina dengan aman dan tertib. Kondisi itu menandai berakhirnya seluruh rangkaian utama ibadah haji 1447 H/2026 M di kawasan Armuzna.
Dalam rapat tersebut, Irfan meminta jajaran penyelenggara mengupas pelaksanaan layanan secara menyeluruh. Pemeriksaan itu mencakup pergerakan jemaah, layanan tenda, konsumsi, transportasi, hingga layanan kesehatan. Ia juga menyoroti pengelolaan mabit di Muzdalifah serta pelaksanaan murur.
“Berakhirnya fase Mina bukan berarti tugas kita selesai. Justru saat inilah seluruh catatan lapangan harus dihimpun dan dievaluasi secara menyeluruh agar menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan haji tahun depan,” kata Irfan.
Ia menyebut, penyelenggaraan haji tahun ini secara umum berjalan baik dan terkendali. Meski begitu, pemerintah tetap membuka ruang evaluasi dari berbagai pihak, mulai dari jemaah, petugas, DPR RI, hingga pemangku kepentingan lain, untuk meningkatkan layanan pada musim haji berikutnya.
Irfan juga menekankan evaluasi dilakukan lebih awal tahun ini. Alasannya, Pemerintah Arab Saudi telah menyampaikan kerangka waktu awal penyelenggaraan haji 2027 kepada Indonesia. Dengan begitu, pemerintah bisa menyiapkan perencanaan, pengadaan layanan, dan penyempurnaan tata kelola secara lebih matang.
“Kita ingin seluruh pengalaman lapangan tahun ini menjadi pelajaran berharga. Evaluasi harus dilakukan sejak dini agar layanan haji 2027 semakin tertata, semakin ramah lansia, lebih responsif terhadap kebutuhan jemaah, serta mampu menghadirkan ibadah yang aman, nyaman, dan membahagiakan,” ujarnya.
Selain evaluasi Armuzna, rapat itu turut membahas persiapan pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air yang dijadwalkan mulai 1 Juni 2026. Irfan meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjaga mutu layanan, terutama bagi jemaah yang masih menuntaskan tawaf ifadah, jemaah lanjut usia, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi.
Di akhir rapat, Irfan menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaah Indonesia atas kedisiplinan mereka selama fase Armuzna. Ia juga berterima kasih kepada para petugas yang dinilainya telah bekerja penuh dedikasi di tengah padatnya mobilitas jemaah pada puncak ibadah haji.
“Terima kasih kepada seluruh jemaah dan petugas haji Indonesia. Semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan pelayanan yang diberikan selama Armuzna menjadi modal penting untuk terus memperbaiki kualitas penyelenggaraan haji Indonesia pada masa yang akan datang,” katanya.

