Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (9/9/2025) melontarkan teguran keras yang jarang terjadi kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Teguran tersebut menyusul serangan Israel terhadap kelompok Hamas di Qatar, sebuah negara yang merupakan sekutu dekat AS dan tuan rumah pangkalan udara Amerika terbesar di kawasan Teluk.
Trump menegaskan dirinya tidak terlibat dalam keputusan serangan tersebut, meskipun Qatar memiliki hubungan erat dengan Washington. “Ini adalah keputusan yang dibuat oleh Perdana Menteri Netanyahu, bukan keputusan saya,” kata Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya.
Ia mengaku sempat berupaya menghentikan serangan itu, namun terlambat. “Saya memandang Qatar sebagai sekutu kuat dan sahabat AS, dan merasa sangat prihatin dengan lokasi serangan itu,” tambahnya.
Meskipun demikian, Trump tetap menyatakan bahwa melenyapkan Hamas adalah tujuan yang mulia.
Serangan Israel di Doha ini menimbulkan sensitivitas tinggi. Selain berperan sebagai mediator penting dalam negosiasi Israel–Hamas, Qatar juga pernah menjamu Trump dalam kunjungannya ke Timur Tengah awal tahun ini.
Negara kaya energi tersebut bahkan menghadiahi AS sebuah jet mewah Boeing 747-8 untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan, yang sempat memicu pertanyaan etis di Washington.
Trump menilai pengeboman sepihak Israel berpotensi merusak upaya perdamaian. “Pengeboman sepihak di Qatar, sebuah negara berdaulat dan sekutu dekat Amerika Serikat, yang bekerja sangat keras dan berani mengambil risiko bersama kami untuk menengahi perdamaian, tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika,” tegasnya.
Gedung Putih, ungkap Trump, menerima laporan dari militer AS bahwa Israel melancarkan serangan terhadap Hamas yang berada di wilayah Doha.
“Saya segera memerintahkan Utusan Khusus Steve Witkoff untuk memberi tahu Qatar tentang serangan yang akan datang, yang sayangnya terlambat untuk menghentikan serangan,” jelasnya.
Menurut Trump, ia telah berbicara langsung dengan Netanyahu setelah serangan tersebut.
“Perdana Menteri mengatakan kepada saya bahwa ia ingin mencapai perdamaian. Saya yakin insiden yang tidak menguntungkan ini dapat menjadi kesempatan untuk perdamaian,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump sudah menyampaikan kekhawatirannya secara jelas kepada Netanyahu.
Pihak Qatar sebelumnya menyatakan tidak menerima peringatan apa pun dari Washington.
“Panggilan telepon yang diterima dari seorang pejabat Amerika datang ketika ledakan terdengar dari serangan Israel di Doha,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, di X.
Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk segera merampungkan perjanjian kerja sama pertahanan dengan Doha.
Ia juga mengaku telah meyakinkan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melalui panggilan telepon bahwa serangan serupa tidak akan terulang.
Insiden ini kembali menyeret Qatar dalam dinamika konflik Timur Tengah. Sebelumnya, pada Juni lalu, Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS Al Udeid sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran.

