Yogyakarta – Perubahan tampuk kepemimpinan di Kementerian Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudha Sadewa pada Senin (8/9/2025) lalu, menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi. Reaksi pasar pun terlihat nyata dengan terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dosen dan peneliti Universitas Islam Indonesia (UII), Listya Endang Artiani, menilai pergantian ini bermakna ganda bagi publik. Ada harapan akan responsifitas figur baru terhadap kebutuhan domestik, namun juga kekhawatiran akan melemahnya fondasi fiskal yang telah terbangun.
Listya menekankan pentingnya menjaga konsistensi kebijakan. Tanpa sinyal kuat mengenai kesinambungan fiskal, kepercayaan investor domestik dan asing yang cenderung pragmatis dapat runtuh dengan cepat.
Reaksi pasar langsung terasa pada hari pergantian, 8 September 2025. IHSG mengalami koreksi sekitar 1,6 persen, menjadi penurunan harian terbesar sejak pertengahan tahun, padahal sebelumnya sempat mencetak rekor intraday di atas 8.022.
“Volatilitas ini menunjukkan bahwa investor langsung menilai risiko kredibilitas fiskal pasca-dengan ditinggalkannya Sri Mulyani,” ujar Listya.
Listya menambahkan, tugas utama Purbaya Yudha Sadewa adalah meyakinkan pasar bahwa Indonesia tetap berpegang pada disiplin fiskal. Keberhasilan dalam hal ini akan memperkuat warisan yang ditinggalkan Sri Mulyani.
Sebaliknya, kegagalan akan memicu krisis kepercayaan yang lebih besar, dengan IHSG dan nilai tukar rupiah sebagai indikator awalnya. Pertanyaan besar kini berada di pundak Menteri Keuangan baru: stabilitas atau volatilitas?

