JAKARTA – Pergerakan saham perbankan pada semester kedua tahun ini sangat dipengaruhi oleh tingkat penurunan suku bunga acuan. Pemangkasan suku bunga yang agresif diproyeksikan menjadi katalis positif bagi sektor perbankan.
Hal ini diungkapkan oleh Equities Specialist DBS Group Research, Maynard Arif, dalam sebuah Media Briefing pada Rabu (20/8/2025). Menurutnya, kinerja sektor perbankan di sisa tahun 2025 akan sangat bergantung pada seberapa jauh suku bunga dipangkas.
Skenario paling agresif memproyeksikan The Fed akan menurunkan suku bunga di setiap pertemuannya hingga akhir 2025. Kondisi ini diharapkan diikuti oleh pemotongan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Namun, Maynard masih memantau seberapa agresif pemotongan suku bunga acuan tersebut. Saat ini, data inflasi dan ketenagakerjaan di Amerika Serikat masih relatif terus berubah, yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga.
Sementara itu, target sektor perbankan untuk menggenjot kredit hingga level dua digit dinilai relatif berat. Meskipun demikian, ia tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat terealisasi pada paruh kedua, terutama jika bank-bank besar mampu menggenjot penyaluran kreditnya.
Investor disarankan untuk lebih memperhatikan kualitas aset, termasuk non performing loan (NPL). Skenario paling ideal adalah terjadi penurunan suku bunga, kredit relatif naik, tetapi NPL tetap terjaga.
Kondisi demikian mampu menjadi katalis untuk menunjang pergerakan kinerja saham perbankan di semester II-2025. Apabila hal ini terjadi, minat investor terhadap sektor perbankan bisa kembali meningkat.
Sebagai informasi, beberapa saham bank besar menjalani paruh pertama 2025 dengan kinerja yang kurang memuaskan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sepanjang tahun telah turun 14,21 persen sejak awal tahun.
Demikian pula saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 12,66 persen sejak awal tahun. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) hanya naik tipis 0,49 persen sepanjang tahun atau year-to-date (ytd).

