IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Dana Asing Kabur, CPO dan Batubara Menguat Kontras

Dana asing keluar Rp 106,9 triliun, saham CPO dan batubara justru menguat

Jakarta – Tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia belum surut hingga sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), asing membukukan net sell sebesar Rp 106,9 triliun atau sekitar 1% dari kapitalisasi pasar.

Analis PT Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi menyebut arus keluar itu bukan peristiwa sesaat. Dalam riset tertanggal 6 Oktober 2026, ia menegaskan tren penarikan dana asing sudah berlangsung tiga tahun beruntun. Sejak 2024, total outflow asing dari saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 179 triliun atau setara US$ 10 miliar.

Jumlah tersebut bahkan melampaui arus keluar pada periode pandemi Covid-19 yang sebelumnya tercatat sekitar Rp 61 triliun.

Tekanan terbesar masih datang dari sektor perbankan. Dalam periode Januari-September 2026, saham-saham bank mencatat net outflow asing Rp 62,8 triliun.

Meski begitu, tekanan di sektor ini terlihat mulai melandai pada kuartal III 2026. Pada tiga bulan tersebut, arus keluar asing di saham bank hanya sekitar Rp 1,6 triliun.

Bursa Asia Melemah, Brent Tembus US$101,65 per Barel

Di bawah perbankan, sektor utilities mencatat outflow Rp 9,4 triliun. Batubara menyusul dengan Rp 8,4 triliun, sedangkan consumer staples mengalami net sell asing Rp 4,1 triliun.

Namun, keluarnya dana asing tidak serta-merta menekan seluruh saham. Pada kuartal III 2026, sebagian besar sektor justru bergerak naik secara kuartalan, terutama kelompok komoditas.

Saham CPO mencatat kenaikan sekitar 32,3% secara kuartalan. Batubara menguat 31%, sementara sektor logam naik 27%. Di sisi lain, teknologi dan properti menjadi dua sektor dengan kinerja paling lemah pada periode yang sama.

Jovent menilai penguatan saham komoditas terutama ditopang oleh laba yang solid. Laba sektor batubara tumbuh sekitar 80% secara kuartalan, walau masih turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja sektor CPO juga kuat, dengan pertumbuhan laba 49% secara kuartalan dan 16% secara tahunan. Sektor logam mencatat kenaikan laba 2% secara kuartalan dan melonjak 53% secara tahunan.

Wall Street Menguat Rekor, Saham Chip dan AI Menjadi Motor

Perbankan pun masih mencatat kenaikan harga saham sekitar 8% secara kuartalan, seiring laba yang pada kuartal II 2026 tumbuh 16% secara tahunan meski turun 2% dibanding kuartal sebelumnya.

Sebaliknya, sektor dengan pertumbuhan laba lebih lemah cenderung tertinggal. Consumer staples, misalnya, hanya membukukan pertumbuhan laba sekitar 4% secara tahunan dan harga sahamnya turun 6% secara kuartalan.

Sektor poultry lebih tertekan lagi. Labanya turun sekitar 59% secara kuartalan dan sahamnya terkoreksi 8%.

Menurut Jovent, data itu menunjukkan kinerja laba masih menjadi penentu utama arah saham per sektor. Ia menilai fundamental perusahaan, terutama pertumbuhan laba, tetap memegang peranan penting dalam pergerakan harga saham dan tidak seluruhnya digerakkan sentimen pasar.

Penguatan pasar pada kuartal III 2026 juga disebut sepenuhnya ditopang dana domestik. Sebab, investor asing masih mencatat outflow sekitar Rp 19 triliun atau US$ 1,1 miliar pada periode tersebut.

ENRG Gelontorkan US$200 Juta, Perkuat Ekspansi HighPeak

Hanya sektor rokok yang mencatat inflow asing sekitar Rp 700 miliar. Kendati demikian, harga saham sektor itu tetap turun sekitar 4% secara kuartalan, meski laba kuartalan relatif datar.

Indo Premier menduga pelemahan tersebut berkaitan dengan perubahan di Kementerian Keuangan. Investor, menurut perusahaan sekuritas itu, menangkap potensi kebijakan yang lebih ketat terhadap sektor tembakau.

Di tengah derasnya penarikan dana asing, valuasi saham Indonesia sebenarnya sudah berada di level yang cukup murah. IHSG saat ini diperdagangkan sekitar 10 kali price to earnings ratio atau P/E, jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 16,7 kali.

Dari sisi price to book value atau P/B, IHSG berada di sekitar 1,6 kali. Angka itu juga lebih rendah dibanding rata-rata 10 tahun yang berada di 2,2 kali.

Kondisi serupa terjadi di sektor perbankan. Saham bank saat ini diperdagangkan sekitar 1,5 kali P/B berdasarkan estimasi 2026 dan 8,1 kali P/E, lebih rendah dari rata-rata 10 tahun masing-masing 2,2 kali dan 14,3 kali.

Namun, valuasi murah belum cukup untuk memancing kembali minat asing. Jovent menyebut posisi investor asing masih berada pada level underweight dibanding bobotnya di indeks MSCI untuk sektor perbankan, telekomunikasi, dan otomotif.

Dari komunikasi Indo Premier dengan sejumlah investor asing, masih ada beberapa hal yang harus dibenahi sebelum eksposur ke pasar Indonesia dinaikkan. Pertama, persoalan klasifikasi MSCI. Kedua, kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan pascapengumuman DSI, meski implementasinya dinilai lebih baik dari perkiraan. Ketiga, risiko nilai tukar dan stabilitas fiskal di tengah harga minyak yang masih tinggi.

Dengan kondisi itu, kembalinya dana asing belum bisa dipastikan dalam waktu dekat. Sementara itu, aliran dana domestik dan pertumbuhan laba perusahaan masih menjadi penopang utama pergerakan sejumlah sektor di pasar saham Indonesia.

Komentar