IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Sport

Tailan Tancap Gas, Jauhi Indonesia di Asian Games 2026

Klasemen Asian Games 2026: Tailan Sudah Jauh Lebih Gila dari Indonesia

Nagoya – Tailan melaju jauh di atas Indonesia dalam perolehan medali Asian Games 2026 setelah mengumpulkan tujuh emas hingga hari ke-7. Indonesia, pada periode yang sama, baru meraih satu emas.

Raihan emas Tailan tersebar di beberapa cabang. Tiga di antaranya datang dari teqball, sedangkan atletik, berkuda, bela diri campuran atau MMA, dan sepak takraw masing-masing menyumbang satu emas.

Tak hanya emas, Tailan juga sudah mengantongi medali perak dan perunggu dari sejumlah cabang lain, mulai dari bulu tangkis, berkuda, esports, kabaddi, karate, dayung, sepak takraw, menembak, bola voli, polo air, hingga angkat besi. Artinya, sudah ada 14 cabang olahraga yang memberi sumbangan medali untuk mereka dalam ajang yang dibuka pada 19 September dan dijadwalkan berakhir pada 4 Oktober.

Dari 14 cabang itu, delapan di antaranya merupakan nomor yang juga dipertandingkan di Olimpiade. Pada level Olimpiade, Tailan pun masih lebih unggul dibanding negara-negara Asia Tenggara lain. Mereka kini sudah mengoleksi 11 emas, sementara Indonesia 10 emas.

Jika dibandingkan secara keseluruhan di level Asia, termasuk Asia Tenggara, Tailan tampak sudah meninggalkan Indonesia cukup jauh. Pola itu bukan hal baru. Jejak dominasi mereka sudah terlihat sejak Asian Games Tokyo 1958, saat Tailan pertama kali meraih medali dan mengumpulkan 12 keping, jumlah yang sama dengan Indonesia.

Herdman Antusias, Indonesia-Malaysia Bakal Panas di SUGBK

Catatan Tailan memang sempat macet pada dua edisi awal Asian Games di New Delhi 1951 dan Manila 1954. Pada dua penyelenggaraan itu, Indonesia justru membukukan total delapan medali. Namun setelahnya, Tailan hampir selalu berada di depan Indonesia, terutama dalam delapan edisi terakhir, kecuali pada Asian Games 2018 saat Jakarta dan Palembang menjadi tuan rumah.

Secara rata-rata, Tailan finish di peringkat 7 sepanjang keikutsertaan mereka di Asian Games. Indonesia rata-rata berada di posisi 11. Dalam 28 tahun terakhir, Tailan hampir selalu bertengger di peringkat 4 hingga 9, dengan pengecualian Asian Games 2018 ketika mereka turun ke posisi 12.

Indonesia punya jejak yang berbeda. Dalam kurun yang sama, prestasi mereka hampir selalu berakhir di dua digit, kecuali pada edisi 2018 ketika finis di urutan keempat. Bahkan pada 2006, Indonesia sempat terlempar ke posisi ke-22.

Menurut World Population Review, Tailan adalah negara paling padat penduduk keempat di Asia Tenggara. Dengan populasi 71,6 juta jiwa, mereka berada di bawah Vietnam, Filipina, dan Indonesia yang berpenduduk 287 juta.

Meski bukan negara terpadat, Tailan justru tercatat selalu mengirim kontingen atlet terbanyak ke Asian Games sejak 1966 hingga 2026. Tahun ini, mereka menurunkan 694 atlet. Indonesia mengirim 432 atlet.

Kevin Mendoza Kembali ke Bandung, Harap Bobotoh Dukung Filipina

Empat tahun lalu di Hangzhou, Tailan bahkan tampil lebih agresif. Mereka mengirim 934 atlet, lebih dari dua kali lipat kontingen Indonesia yang saat itu berjumlah 415 atlet. Hasilnya, Tailan finis di peringkat kedelapan dengan 12 emas, 14 perak, dan 32 perunggu. Indonesia kala itu berada di urutan ke-13 dengan 7 emas, 11 perak, dan 18 perunggu.

Pencapaian tersebut makin menonjol karena Tailan bukan negara terkaya di Asia Tenggara. Berdasarkan data Wikipedia, produk domestik bruto mereka sebesar 561 miliar dolar AS, sekitar 36 persen dari PDB Indonesia yang mencapai 1,5 triliun dolar AS.

Dari sisi individu, pendapatan per kapita Tailan juga masih berada di bawah Singapura dan Malaysia. Data IMF menunjukkan PDB per kapita Singapura mencapai 107,7 ribu dolar AS, Malaysia 15 ribu dolar AS, sedangkan Tailan berada di angka 8 ribu dolar AS.

Namun, keterbatasan ekonomi itu tidak membuat ambisi olahraga mereka surut. Tailan justru dikenal paling agresif membangun gengsi lewat olahraga internasional, termasuk mengembangkan cabang-cabang yang sebelumnya tidak terlalu populer, seperti bulu tangkis.

Di Aichi-Nagoya tahun ini, ambisi itu kembali terlihat jelas. Tailan bukan hanya bersaing di papan atas bersama tiga raksasa Asia Timur dan dua kekuatan Asia Tengah, tetapi juga semakin mendekati pencapaian negara-negara besar olahraga Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Manchester City Hadapi 114 Dakwaan, Hukuman Berat Menanti?

Banyak pihak menilai kesuksesan Tailan bertumpu pada dukungan kelembagaan yang kuat, promosi olahraga yang masif sebagai bagian dari soft power, serta pembinaan akar rumput yang berjalan luas. Mereka juga memandang kemajuan olahraga secara menyeluruh, sehingga seluruh elemen ikut mendorong perkembangan prestasi.

Seorang warga Tailan, Arkaneh Urairat, pernah menggambarkan suasana itu di Quora. Ia menulis bahwa setiap kali ada turnamen internasional, negaranya akan ramai luar biasa. “Rakyat heboh, kementerian olahraga heboh, atlet berada di bawah tekanan tinggi, media massa menggila, dan yang istimewa, seluruh warga di daerah asal atlet ikut larut dalam kegembiraan,” ujarnya.

Ia menambahkan, peraih medali bisa langsung menjadi jutawan karena banjir bonus dari berbagai pihak, termasuk perusahaan besar. “Berbagai kesepakatan komersial juga menunggu lampu hijau dari orang tua atlet,” kata dia.

Kegilaan terhadap olahraga itulah yang membuat Tailan terus membangun gengsi nasional dari arena pertandingan. Dengan dorongan ambisi yang besar, mereka bertekad tidak kalah dari raksasa Asia Timur, setidaknya dalam olahraga.

Komentar