Jakarta, Gonesia.com – Mantan Chief Economist Bank Dunia, Indermit Gill, menegaskan bahwa momentum krisis ekonomi global saat ini merupakan peluang krusial bagi negara berpendapatan menengah untuk memutus rantai jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
Ia menekankan pentingnya adopsi konsep creative destruction atau penghancuran kreatif sebagai strategi utama untuk merombak struktur ekonomi nasional yang mulai tidak efisien.
Transformasi ini dinilai mendesak guna menggantikan model ekonomi lama dengan sistem yang jauh lebih produktif dan inovatif.
“Konsep tersebut memungkinkan struktur ekonomi lama yang tidak lagi efisien untuk digantikan oleh struktur ekonomi baru yang lebih produktif,” ujar Gill dalam acara Bappenas – ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions, Rabu (9/9).
Menurutnya, tantangan utama dalam proses transformasi ini tidak sekadar bersifat teknis ekonomi, melainkan mencakup kompleksitas sosial dan politik yang mendalam.
Perubahan struktural sering kali terbentur dengan kepentingan kelompok elite yang selama ini menikmati kenyamanan dari status quo ekonomi yang ada.
Ia menekankan bahwa pemerintah harus memiliki keberanian untuk melakukan pendisiplinan terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi yang menghambat kemajuan negara.
“Pada dasarnya, negara-negara ini harus mendisiplinkan perusahaan-perusahaan besar, mendisiplinkan kelompok elite, dan sebagainya untuk memastikan transformasi struktural benar-benar terjadi,” kata dia.
Gill menjelaskan bahwa kelompok yang diuntungkan oleh struktur lama cenderung resisten terhadap segala bentuk perubahan yang mengancam posisi mereka.
Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui mekanisme yang tegas sangat diperlukan untuk meruntuhkan struktur lama yang tidak kompetitif tersebut.
Ia menambahkan bahwa masa krisis menjadi waktu yang paling tepat untuk melakukan perombakan besar-besaran karena posisi tawar kelompok elite sedang melemah.
“Waktu terbaik untuk melakukan hal tersebut adalah ketika terjadi krisis. Sebab, dalam kondisi krisis, kelompok elite yang sudah mengakar, perusahaan-perusahaan besar, dan pihak-pihak yang selama ini memperoleh keuntungan dari situasi yang ada cenderung berada dalam posisi yang lebih lemah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa perjuangan negara berpendapatan menengah saat ini jauh lebih berat dibandingkan kondisi dua dekade silam.
Proses transisi yang pernah dilalui negara maju seperti Singapura dan Korea Selatan kini menghadapi tantangan global yang jauh lebih dinamis dan sulit.
“Menjadi negara berpendapatan menengah saat ini jauh lebih sulit dibandingkan 20 tahun lalu,” katanya.
Persoalan mendasar yang menghambat banyak negara saat ini adalah rendahnya efisiensi dalam pengelolaan sumber daya ekonomi nasional.
Pemanfaatan modal, talenta, hingga energi di negara-negara tersebut dinilai masih kalah jauh dibandingkan dengan standar efisiensi di negara maju.
“Dengan kata lain, produktivitas mereka masih rendah,” ujarnya.
Gill menyimpulkan bahwa peningkatan produktivitas tidak bisa hanya mengandalkan instrumen kebijakan ekonomi konvensional semata.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan pasca-krisis tidak hanya berfokus pada pemulihan instan, tetapi juga pada pembentukan fondasi ekonomi baru yang lebih efisien.
“Bagi negara berpendapatan menengah, krisis merupakan periode yang sangat penting. Bukan hanya karena kita ingin menjaga agar krisis berlangsung singkat dan tidak terlalu dalam, tetapi juga karena kita ingin keluar dari krisis dengan struktur ekonomi yang baru,” kata dia.


