IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Kinerja Sido Muncul Turun di Semester I-2026, Simak Rekomendasi Saham SIDO

Papan nama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di area pabrik
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang semester I-2026.

JAKARTA, Gonesia.com – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menghadapi tantangan berat sepanjang semester pertama tahun 2026 yang tercermin dari penurunan kinerja keuangan yang signifikan.

Perusahaan jamu ternama ini mencatatkan perolehan pendapatan sebesar Rp1,47 triliun, angka yang menunjukkan penurunan tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,83 triliun.

Dampak dari merosotnya pendapatan tersebut berimbas langsung pada perolehan laba bersih perseroan yang kini hanya menyentuh angka Rp333,7 miliar.

Jumlah tersebut mencatat penurunan drastis jika disandingkan dengan laba bersih pada periode serupa tahun sebelumnya yang mencapai Rp600,47 miliar.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengidentifikasi adanya perpaduan faktor makro dan struktural yang menekan performa emiten tersebut.

OJK: Tekanan Bursa Mereda, Investor Asing Catatkan Net Buy Rp1,6 Triliun

“Penurunan penjualan secara tahunan didorong tiga faktor: daya beli konsumen menengah-bawah tertekan di tengah BI Rate 5,75% dan inflasi 3,06% langsung pukul volume produk herbal yang semi-discretionary,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Dia menambahkan bahwa persaingan di pasar kini semakin intensif dengan munculnya banyak pemain baru.

“Persaingan makin intensif dari private label dan merek independen di kanal digital, ini merupakan tekanan yang tidak akan hilang,” lanjutnya.

Selain faktor persaingan, ia juga menyoroti adanya high base effect dari tahun lalu yang membuat kontraksi kinerja saat ini tampak jauh lebih dalam.

Tekanan pada laba bersih dinilai terjadi secara berlapis karena beban operasional yang tetap tinggi di tengah penurunan pendapatan.

Tiga Bank Asing Transfer Laba Rp 11,5 Triliun ke Kantor Pusat

“Tekanan laba kotor yang berlapis plus kenaikan beban pemasaran menjelaskan kenapa laba turun lebih dalam daripada revenue,” jelas dia.

Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan adanya operating leverage negatif yang membebani neraca keuangan perusahaan.

Manajemen SIDO saat ini terpaksa meningkatkan belanja pemasaran sebagai upaya defensif untuk menjaga pangsa pasar di tengah gempuran kompetisi.

Margin pressure berlanjut sampai volume pulih atau ada cost restructuring yang signifikan,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia, menilai realisasi kinerja SIDO selama enam bulan pertama tahun ini meleset dari ekspektasi pasar.

Menkeu Purbaya Ajak Toyota Pindahkan Basis Produksi ke Indonesia

Capaian laba bersih Rp333,7 miliar tersebut hanya merepresentasikan sekitar 30% dari target laba yang diproyeksikan untuk setahun penuh.

“Kami menilai hasil ini lebih buruk dari perkiraan, karena pemulihan belum cukup untuk menutupi penurunan tajam pada segmen herbal,” tulis Catherine dalam laporan risetnya.

Ia mencatat segmen herbal yang merupakan tulang punggung pendapatan perusahaan mengalami koreksi sebesar 40,8% secara tahunan menjadi Rp638,9 miliar.

Meskipun segmen makanan dan minuman mencatatkan pertumbuhan 10,8% menjadi Rp760,4 miliar, segmen tersebut memiliki margin yang lebih tipis dibandingkan produk herbal.

“Tekanan margin masih signifikan, seiring penurunan kontribusi segmen herbal yang memiliki margin tinggi,” papar dia.

Terkait prospek di semester kedua, Wafi memprediksi adanya potensi perbaikan meskipun dalam skala yang terbatas.

“Prospek H2 moderat-cautious. Penguatan musiman dari produk kesehatan menjelang musim hujan bisa bantu, tapi pemulihan tidak akan terlalu besar, lebih ke stabilisasi,” ujarnya.

Dia menekankan beberapa katalis kunci yang dapat membantu pemulihan, mulai dari stabilisasi rupiah hingga inovasi produk ke arah segmen premium.

“Empat katalis pemulihan antara lain stabilisasi rupiah, sinyal rate cut BI di kuartal IV, inovasi produk ke segmen premium, serta potensi keterkaitan dengan program pemerintah,” tuturnya.

Meski demikian, ia menyarankan investor untuk mengambil sikap waspada sebelum memutuskan untuk melakukan akumulasi saham.

“Decline H1 yang significant mengubah risk-reward calculus, jadi wait and see sampai ada kejelasan apakah H2 menunjukkan stabilisasi yang genuine sebelum akumulasi,” tutupnya.

Hingga saat ini, pihak MNC Sekuritas masih menempatkan target harga saham SIDO dalam status review untuk memantau risiko kinerja yang masih membayangi.

Komentar

Berita Populer

01

Saham Blue Chip Tertekan, Simak Peluang Rebound Semester II 2026

02

Kasus Asusila TransJakarta: Polisi Ungkap Fakta Baru, Pelaku Saling Meraba

03

PLTMG Gunungsitoli Amankan Listrik Nias, Hadapi Cuaca Ekstrem Saat Nataru

04

Manufaktur Indonesia Targetkan Pertumbuhan 5,51 Persen di 2026

05

Biochar Sisik Ikan Perkuat Komposit Serat Karbon, Kurangi Limbah, Tingkatkan Kekuatan

06

Contraflow Jakarta-Cikampek KM 55-65 Berlaku: Cek Info Terbaru!

07

DPRD Padang Desak Pemko Berantas Pungli, Selamatkan Pariwisata Pantai

08

Petugas PPSU Jakarta Utara Menjaga Integritas Kerja di Tengah Godaan Manipulasi

Berita Terbaru