JAKARTA, Gonesia.com – Ekspansi strategis PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) ke sektor pusat data atau data center melalui unit bisnis NeutraDC diproyeksikan bakal menjadi mesin pertumbuhan utama sekaligus katalis penggerak valuasi perusahaan hingga akhir 2026.
Langkah agresif perseroan dalam memperkuat infrastruktur digital ini dinilai mampu mengimbangi tantangan persaingan ketat di segmen layanan seluler konvensional.
Saat ini, fokus utama pengembangan terletak pada fasilitas JKT-1 di Cikarang yang memiliki kapasitas desain mencapai 21,5 megawatt (MW).
Meskipun kapasitas yang beroperasi baru menyentuh angka 3,5 MW, sisa kapasitas sebesar 18 MW telah sepenuhnya dikontrak oleh pelanggan dan kini hanya menunggu proses penyesuaian kebutuhan penyewa.
Ekspansi perusahaan pelat merah tersebut tidak berhenti di Cikarang saja.
NeutraDC tengah merampungkan fasilitas hyperscale di Batam dengan kapasitas 18 MW yang dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada tahun ini.
Proyek tersebut telah mendapatkan kepastian pendapatan karena seluruh kapasitasnya sudah dikontrak oleh Gorilla Technology selaku penyewa utama.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menyebut langkah ini sebagai katalis fundamental yang krusial bagi kinerja jangka panjang emiten tersebut.
“Dengan asumsi tarif sewa hyperscale sekitar US$ 200 ribu/MW/bulan, bisnis data center berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,3 triliun pada tahap awal dan meningkat menjadi Rp 2,1 – Rp 2,2 triliun saat Batam beroperasi penuh,” ungkap Sukarno kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Dia menambahkan bahwa meskipun kontribusi data center terhadap total pendapatan grup saat ini masih tergolong kecil, potensi rerating valuasi sangat terbuka lebar.
Peningkatan permintaan akan teknologi kecerdasan buatan dan layanan cloud menjadi pendukung utama optimisme pasar terhadap langkah transformasi Telkom.
Selain itu, efisiensi jaringan melalui tambahan spektrum 700 MHz turut memperkuat posisi fundamental perseroan di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang semakin dinamis.
Perusahaan juga mencatatkan kinerja keuangan yang stabil sepanjang semester I-2026 dengan pendapatan konsolidasi mencapai Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% secara tahunan.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp 10,6 triliun, meningkat 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, analis tetap memberikan catatan mengenai potensi risiko yang membayangi operasional perusahaan ke depan.
Ia menjelaskan bahwa persaingan harga data yang agresif dari para kompetitor seperti ISAT dan XLSmart berisiko menekan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU.
Faktor lain yang perlu dicermati meliputi tingginya kebutuhan belanja modal untuk pengembangan infrastruktur serta potensi kenaikan biaya energi.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, turut menyoroti tantangan regulasi baru terkait putusan Mahkamah Konstitusi.
Putusan MK Nomor 273/PUU-XXIII/2025 mewajibkan operator seluler untuk menjamin sisa kuota internet pelanggan tidak hangus secara sepihak.
Aturan tersebut dinilai menambah ketidakpastian bagi model bisnis layanan prabayar yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan operator telekomunikasi.
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, Sukarno memberikan rekomendasi buy untuk saham TLKM dengan target harga berada di level Rp 3.630 per saham.


