JAKARTA, Gonesia.com — Perum Bulog kini mendapatkan keringanan beban keuangan yang signifikan setelah Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) sepakat menurunkan suku bunga kredit perusahaan menjadi hanya 3% per tahun.
Kebijakan strategis ini diproyeksikan mampu memangkas beban pembayaran bunga pinjaman perusahaan hingga mencapai angka Rp1,07 triliun dalam kurun waktu satu tahun.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa penurunan bunga pinjaman ini merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah untuk memperkuat kapasitas Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Dampak dari pengurangan bunga bank tersebut, Bulog mampu mengurangi biaya pembayaran bunga dalam satu tahun lebih dari Rp1,07 triliun,” kata Ahmad Rizal seperti dikutip dari Katadata saat ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (3/8).
Ia menjelaskan bahwa ini merupakan momentum bersejarah bagi perusahaan karena baru kali ini Bulog memperoleh fasilitas pembiayaan dengan tingkat bunga yang sangat kompetitif.
Sebelumnya, beban bunga pinjaman yang harus ditanggung oleh korporasi pelat merah ini berada pada kisaran 7% hingga 8%.
Kini, bunga pinjaman tersebut telah dipangkas secara drastis menjadi efektif 5% saja.
Dari total beban 5% tersebut, pihak Bulog hanya menanggung bunga sebesar 3%.
Sisanya, yakni sebesar 2%, akan ditanggung dan dibayarkan langsung oleh pemerintah melalui skema subsidi bunga.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini akan memperkuat kondisi keuangan perusahaan secara fundamental.
Langkah ini sekaligus memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi Bulog untuk menjalankan berbagai penugasan krusial dari negara.
Ruang fiskal tersebut mencakup efektivitas dalam proses pengadaan hingga pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Selain restrukturisasi bunga kredit, Bulog sebelumnya juga telah mendapatkan persetujuan pemerintah terkait skema margin baru sebesar 7%.
Perubahan margin tersebut diproyeksikan akan memperbaiki neraca keuangan perusahaan hingga berbalik positif sekitar Rp1,14 triliun pada akhir tahun ini.
Menurutnya, perbaikan kondisi keuangan ini akan langsung dialokasikan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat luas.
Salah satu prioritas penggunaan anggaran tersebut adalah menggandakan biaya operasional pemeliharaan gudang di seluruh Indonesia.
Langkah ini ditempuh guna memastikan kualitas beras milik pemerintah tetap terjaga dengan baik saat didistribusikan ke masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini tengah mengintensifkan pembahasan mengenai rencana penerapan skema beras SPHP satu harga.
Skema satu harga ini diharapkan dapat berlaku secara merata di seluruh wilayah Indonesia dalam waktu dekat.
Upaya efisiensi ini menjadi bagian dari transformasi besar dalam tata kelola logistik pangan nasional.
Dengan beban bunga yang lebih ringan, Bulog diharapkan mampu bergerak lebih lincah dalam merespons dinamika harga komoditas pangan di pasar domestik.
Ke depan, perusahaan akan terus berkoordinasi dengan Himbara untuk memastikan stabilitas pembiayaan operasional tetap terjaga.
Dukungan pemerintah dalam subsidi bunga ini menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan misi sosial Bulog.


