Jakarta, Gonesia.com – PT Coca-Cola Indonesia tengah merumuskan strategi adaptasi bisnis guna menghadapi tekanan daya beli masyarakat yang kian tergerus oleh kenaikan harga serta kondisi ekonomi nasional.
Perusahaan raksasa minuman ini menempatkan perubahan gaya hidup dan pola konsumsi konsumen sebagai poros utama untuk mempertahankan relevansi produk di pasar domestik.
Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia, Eva Lusiana, mengakui bahwa pihaknya merasakan dampak langsung dari kontraksi ekonomi yang membatasi kemampuan belanja masyarakat.
“Memang kita juga merasakan bahwa ekonomi sekarang juga ada rasanya kontraksi. Ada beberapa tekanan yang datang dari kenaikan harga, ada beberapa tekanan juga yang datang dari kondisi ekonomi sekarang,” ujar Eva usai acara media brief Coca-Cola di Jakarta Selatan, Jumat (31/7).
Ia menyatakan bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara volume penjualan dengan daya jangkau harga produk di mata konsumen.
Menurutnya, pasar Indonesia memiliki karakteristik unik dengan ketersediaan berbagai pilihan produk minuman yang sangat beragam di tengah ketatnya persaingan industri.
“Yang harus kami lakukan sebagai bisnis adalah kita harus berhati-hati bagaimana konsumen ini masih tetap relevan dengan produk kita dan produk kita juga masih ada dalam daya belinya mereka. Itu yang harus kami dengarkan,” kata Eva.
Ia menekankan bahwa perusahaan wajib menjaga kedekatan emosional dan aksesibilitas produk agar tidak kehilangan pangsa pasar di masa sulit.
Langkah ini diambil untuk memastikan konsumen tetap merasa terhubung dengan merek Coca-Cola meski anggaran belanja rumah tangga sedang dalam tekanan.
Ia menambahkan bahwa perusahaan berupaya keras agar konsumen tidak merasa jauh dari produk, baik dari sisi harga maupun pengalaman yang ditawarkan melalui berbagai aktivitas pemasaran yang relevan.
“Jangan sampai konsumen kita merasa kita jauh dan tidak mendengarkan. Justru ini momen yang sangat tepat sekali,” ujarnya.
Strategi tersebut juga diintegrasikan dengan pembaruan bentuk aktivasi pemasaran yang disesuaikan dengan tren gaya hidup masyarakat terkini.
Perusahaan optimistis bahwa pendekatan berbasis relevansi ini mampu menjaga loyalitas pelanggan di tengah banyaknya pilihan alternatif yang tersedia bagi konsumen.
Langkah strategis ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan perusahaan menjelang perayaan satu abad kehadirannya di tanah air.
Eva mengungkapkan bahwa Coca-Cola telah beroperasi di Indonesia selama 99 tahun dengan kemampuan adaptasi sebagai kunci utama keberlangsungan bisnis.
Ia menegaskan bahwa menjaga relevansi dengan konsumen merupakan pondasi utama yang membuat perusahaan mampu bertahan di pasar Indonesia selama hampir satu abad.
Perusahaan kini fokus pada pemetaan kebutuhan konsumen untuk memastikan produk tetap menjadi pilihan utama masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang memengaruhi daya beli.


