JAKARTA, Gonesia.com – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi magnet utama bagi investor asing di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
Lonjakan minat beli dari investor global ini menjadi katalis utama di balik tren penguatan harga saham emiten perbankan Grup Djarum tersebut.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, harga saham BBCA terpantau naik 72 poin ke level Rp 6.525 per lembar.
Kenaikan ini memperpanjang reli positif yang telah berlangsung selama lima hari perdagangan terakhir.
Secara akumulatif, nilai kapitalisasi pasar saham perbankan ini telah terangkat sebesar 6,53% atau setara 400 poin dalam kurun waktu satu pekan.
Meski demikian, posisi harga saat ini masih mencerminkan koreksi sebesar 18,69% jika dihitung sejak awal tahun 2026.
Data perdagangan mencatat BBCA mendominasi pembelian bersih atau net buy asing dalam dua hari terakhir secara berturut-turut.
Pada Kamis pekan lalu, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 186,7 miliar pada saham tersebut.
Angka tersebut melonjak signifikan menjadi Rp 698,3 miliar pada perdagangan Jumat (17/7/2026).
Selain arus beli asing, pasar juga diramaikan oleh transaksi crossing saham jumbo senilai Rp 1,2 triliun di pasar negosiasi.
Transaksi tersebut melibatkan 1,9 juta lot saham dengan harga rata-rata Rp 6.400 per lembar.
Broker J.P. Morgan Sekuritas Indonesia tercatat sebagai perantara utama dalam aksi korporasi ini.
Menariknya, broker tersebut bertindak sebagai pihak pembeli sekaligus penjual dengan nilai transaksi yang identik.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas dalam risetnya tetap memberikan pandangan optimis terhadap prospek saham ini.
Lembaga tersebut mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga 12 bulan di angka Rp 8.075 per saham.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan kinerja BBCA pada kuartal I-2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah lingkungan operasional yang lebih menantang dibandingkan periode sebelumnya.
Ia menambahkan bahwa pendapatan operasional perseroan berhasil tumbuh 3,3% secara tahunan menjadi Rp 27,8 triliun.
Peningkatan tersebut disokong oleh efisiensi biaya operasional yang menjaga profitabilitas tetap stabil di angka Rp 14,7 triliun.
“Meski pertumbuhan kredit melambat dan margin bunga bersih tertekan, fundamental inti BBCA tetap kuat berkat basis dana murah yang solid, struktur biaya yang efisien, serta pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif,” ujar Liza dalam risetnya.
Ia menjelaskan bahwa penyaluran kredit BBCA tercatat mencapai Rp 993,8 triliun atau tumbuh 5,6% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor korporasi, komersial, dan UMKM, meskipun segmen kredit konsumer masih menunjukkan pelemahan.
Di sisi lain, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 11,2% menjadi Rp 1.089 triliun.
Rasio kredit bermasalah atau gross non-performing loan (NPL) juga dinilai masih aman di level 1,8%.
Liza menyebutkan bahwa potensi kinerja perusahaan masih terbuka lebar jika tekanan margin bunga bersih mulai mereda.
“Namun risiko utama BBCA datang dari tekanan margin bunga bersih yang berkepanjangan, pertumbuhan kredit yang lebih lemah serta memburuknya kondisi makroekonomi,” pungkasnya.


